SMARTSURABAYA.COM – Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Kebun Binatang Surabaya (KBS) tercatat sebagai salah satu institusi konservasi di Indonesia yang menunjukkan keberhasilan signifikan dalam program pengembangbiakan (breeding) komodo.
Capaian ini tidak hanya memperkuat posisi KBS sebagai lembaga konservasi yang kredibel, tetapi juga menarik perhatian internasional. Salah satu bentuk pengakuan tersebut datang dari kebun binatang iZoo Shizuoka di Jepang yang menyatakan minatnya untuk meminjam satwa endemik Indonesia tersebut melalui skema kerja sama breeding loan, sebagai bagian dari upaya konservasi global yang berkelanjutan.
Direktur Operasional Perumda KBS, Nurika Widyasanti, menegaskan bahwa rencana peminjaman sepasang komodo ke iZoo Shizuoka tidak akan menghambat ataupun mengganggu keberlangsungan program pengembangbiakan yang selama ini berjalan di KBS.
Ia menjelaskan bahwa seluruh proses telah melalui kajian mendalam dari pemerintah pusat guna memastikan keseimbangan antara kerja sama internasional dan keberlanjutan konservasi di dalam negeri.
“Dari pemerintah pusat ada kajian-kajian tersendiri, sehingga tetap bisa mempertahankan, paling tidak secara proses breeding di KBS tidak terhenti dikarenakan kedua atau sepasang komodo ini nanti diberangkatkan ke Jepang,” ujar Nurika usai acara penandatanganan MoU antara KBS dan iZoo di Kebun Binatang Surabaya, Rabu (29/4/2026).
Lebih lanjut, Nurika mengungkapkan bahwa populasi komodo yang saat ini berada di KBS telah mencapai lebih dari 50 ekor. Jumlah tersebut dinilai cukup untuk mendukung keberlanjutan program breeding sekaligus memungkinkan dilakukannya kerja sama peminjaman satwa tanpa mengurangi stabilitas populasi di dalam lembaga.
Ia juga menegaskan bahwa angka tersebut belum termasuk dua individu komodo yang direncanakan akan dipinjamkan ke pihak iZoo Shizuoka. “Ini ada lebih di atas 50 ekor (komodo),” ujarnya.
Nurika juga menjelaskan bahwa sebelum penandatanganan nota kesepahaman (MoU) disetujui, pemerintah pusat melalui Kementerian Kehutanan telah melakukan serangkaian evaluasi dan inspeksi terhadap fasilitas yang dimiliki iZoo Shizuoka.
Bahkan, Menteri Kehutanan secara langsung meninjau kondisi sarana dan prasarana di Jepang guna memastikan kesiapan lembaga tersebut dalam merawat komodo sesuai standar internasional. Ia menyebut bahwa pihak iZoo telah menyiapkan kandang dengan sistem pengaturan suhu dan lingkungan yang dirancang menyerupai habitat asli komodo di Indonesia.
“Jadi beliau (Menteri Kehutanan) sudah sampai ke Jepang, tahu sarana prasarana di sana, sudah ada pengaturan suhu dan lain sebagainya. Intinya menyesuaikan habitat atau kebutuhan komodo di sini,” tuturnya.
Terkait keberhasilan program pengembangbiakan, Nurika menekankan bahwa kunci utama terletak pada pemenuhan kebutuhan dasar satwa secara optimal.
Hal ini mencakup aspek pemberian pakan yang sesuai, pengelolaan lingkungan kandang, hingga perhatian terhadap kondisi biologis dan perilaku alami komodo. Dengan pendekatan tersebut, KBS mampu menciptakan kondisi yang mendukung keberhasilan reproduksi satwa langka tersebut secara berkelanjutan.
“Jadi kalau perawatan pemberian makan dan lain sebagainya. Tapi yang paling penting secara hakikat memang sesuai dengan kebutuhan yang ada,” ungkap dia.
Sementara itu, Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, turut memberikan apresiasi terhadap capaian KBS dalam bidang konservasi, khususnya dalam pengembangbiakan komodo.
Ia menyatakan bahwa keberhasilan tersebut menjadi faktor utama yang mendorong minat kebun binatang di Jepang untuk menjalin kerja sama dengan KBS. Selain itu, kerja sama ini juga membuka peluang pertukaran pengalaman dan penguatan jaringan konservasi internasional.
“Jadi kita berhasil dalam pengembangbiakan komodo, maka di Jepang itu karena binatang kebun binatang terbesar reptil, mereka meminta kita untuk meminjam komodo. Dan kita akan mendapatkan pinjaman (satwa) dari Jepang,” ujar Wali Kota Eri.
Eri menambahkan bahwa skema kerja sama ini dirancang dengan mengedepankan prinsip kesejahteraan satwa (animal welfare) sebagai prioritas utama. Pengawasan terhadap kondisi komodo akan dilakukan secara bersama-sama oleh kedua pihak, baik dari Indonesia maupun Jepang, guna memastikan bahwa satwa tetap berada dalam kondisi sehat dan terawat selama masa peminjaman.
“Jadi tetap menjaga masing-masing kesejahteraan satwa. Jadi nanti satwa kita komodo yang ada di Jepang itu tetap akan sama-sama dipantau,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa bentuk kerja sama ini bukan merupakan pertukaran satwa secara permanen, melainkan sebatas peminjaman dalam jangka waktu tertentu. Dalam pelaksanaannya, terdapat mekanisme evaluasi berkala, termasuk kemungkinan penarikan kembali satwa apabila ditemukan kondisi kesehatan yang mengkhawatirkan atau alasan lain yang mendesak selama masa kerja sama berlangsung.
“Jadi ketika dalam masa 5 tahun ini ada yang mungkin sakit bisa ditarik kembali. Karena ini bukan pertukaran tapi peminjaman satwa dan kita sama-sama menjaga,” jelasnya.
Lebih jauh, Eri mengungkapkan bahwa proses terjalinnya kerja sama ini bukanlah hal yang instan, melainkan telah melalui perjalanan panjang yang dimulai sejak sekitar satu dekade lalu.
Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil melalui penandatanganan MoU pada April 2026, yang menjadi tonggak penting dalam kerja sama konservasi antara Indonesia dan Jepang. “Dan ini (proses MoU) sudah 10 tahun yang lalu akhirnya bisa terjalin hari ini,” ungkapnya.
Di sisi lain, Eri juga optimistis bahwa kerja sama peminjaman satwa ini akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan minat dan kunjungan masyarakat, baik di Surabaya maupun di Jepang.
Kehadiran komodo sebagai satwa ikonik Indonesia diyakini mampu menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung, terutama mengingat tingginya antusiasme masyarakat Jepang yang telah lama menginginkan kehadiran komodo di kebun binatang mereka.
“Peminjaman satwa ini bisa menaikkan animo masyarakat yang ada di Surabaya maupun di Jepang. Karena di sana sudah memimpikan ada komodo sejak lama,” pungkasnya.
Kerjasama antara KBS dan iZoo Shizuoka melalui skema breeding loan ini tidak hanya mencerminkan keberhasilan konservasi di tingkat lokal, tetapi juga menunjukkan peran aktif Indonesia dalam upaya pelestarian satwa langka di kancah internasional.
Dengan tetap mengedepankan prinsip kesejahteraan satwa, pengawasan ketat, serta kolaborasi lintas negara, diharapkan kerja sama ini dapat menjadi model bagi pengelolaan konservasi yang berkelanjutan dan saling menguntungkan di masa mendatang.
Sumber: Surabaya.go.id
