SMARTSURABAYA.COM – Libur 17 Agustus tak selalu harus diisi dengan lomba atau berkunjung ke tempat wisata kekinian. Momen Hari Kemerdekaan juga bisa dimanfaatkan untuk mengenal lebih dekat sejarah perjuangan bangsa melalui berbagai destinasi bersejarah di Jawa Timur, terutama di Surabaya yang dijuluki sebagai Kota Pahlawan.
Banyak peristiwa penting dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia terjadi di Surabaya, mulai dari insiden Hotel Yamato, gugurnya Brigadir Jenderal A W S Mallaby, hingga Pertempuran 10 November 1945 yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan.
Jejak sejarah tersebut masih dapat ditemukan melalui monumen, museum, hingga bangunan cagar budaya yang kini menjadi destinasi wisata edukatif. Yuk, simak informasi seputar beberapa destinasi sejarah di Surabaya.
Mengapa Surabaya Menjadi Kota Penting dalam Sejarah Kemerdekaan Indonesia?
Surabaya merupakan salah satu kota yang memiliki peran besar dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia setelah Proklamasi 17 Agustus 1945. Rangkaian peristiwa penting dimulai dari insiden Hotel Yamato pada 19 September 1945.
Saat itu, para pemuda Surabaya merobek bagian biru bendera Belanda yang dikibarkan di atap hotel sehingga hanya menyisakan warna merah dan putih. Aksi tersebut menjadi simbol penolakan
Ketegangan kemudian memuncak setelah Brigadir Jenderal A W S Mallaby tewas dalam insiden di sekitar Jembatan Merah pada 30 Oktober 1945. Peristiwa itu diikuti ultimatum dari Sekutu yang akhirnya memicu Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945.
Meski menghadapi persenjataan yang jauh lebih lengkap, rakyat Surabaya tetap memberikan perlawanan sengit, yang kemudian dikenang sebagai salah satu simbol perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Hingga kini, berbagai lokasi yang menjadi saksi sejarah tersebut masih berdiri dan dapat dikunjungi masyarakat sebagai wisata edukasi maupun napak tilas perjuangan bangsa.
10 Wisata Sejarah Kemerdekaan di Surabaya untuk Libur 17 Agustus
Berikut 10 wisata sejarah kemerdekaan di Surabaya yang dapat menjadi pilihan destinasi saat libur 17 Agustus. Masing-masing lokasi menyimpan kisah penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, sekaligus menawarkan pengalaman wisata edukatif untuk mengenang jasa para pahlawan.
1. Hotel Majapahit

Perjalanan wisata sejarah paling tepat dimulai dari Hotel Majapahit di Jalan Tunjungan. Bangunan yang dahulu bernama Hotel Oranje, kemudian berubah menjadi Hotel Yamato pada masa pendudukan Jepang, menjadi lokasi terjadinya insiden Hotel Yamato pada 19 September 1945.
Saat itu, sekelompok pemuda Surabaya memanjat atap hotel untuk menurunkan bendera Belanda dan merobek bagian birunya sehingga hanya tersisa Merah Putih. Peristiwa tersebut menjadi salah satu simbol awal perlawanan rakyat Indonesia terhadap upaya kembalinya pemerintahan kolonial.
Hotel Majapahit hingga kini masih beroperasi sebagai hotel berbintang dan tetap mempertahankan arsitektur kolonialnya. Pengunjung dapat melihat sejumlah sudut bangunan yang menyimpan jejak sejarah perjuangan kemerdekaan.
2. Gedung Internatio

Tak jauh dari Jembatan Merah berdiri Gedung Internatio yang menjadi salah satu saksi penting menjelang pertempuran Surabaya. Gedung ini pernah dijadikan markas pasukan Sekutu setelah mereka mendarat di Surabaya pada Oktober 1945.
Di kawasan inilah terjadi insiden yang menyebabkan Brigadir Jenderal A W S Mallaby tewas pada 30 Oktober 1945. Peristiwa tersebut kemudian memicu ultimatum Sekutu kepada rakyat Surabaya.
Hingga berujung pada Pertempuran 10 November. Kini, Gedung Internatio masih berdiri sebagai bangunan cagar budaya dan menjadi salah satu ikon kawasan Kota Lama Surabaya.
3. Jembatan Merah

Jembatan Merah menjadi lokasi yang paling identik dengan Pertempuran Surabaya. Selain menjadi tempat terjadinya bentrokan antara pejuang Indonesia dan pasukan Sekutu, kawasan ini juga menjadi penghubung penting antara Kota Lama dengan pusat perdagangan sejak masa kolonial.
Jembatan yang awalnya dibangun pada era VOC tersebut kini tetap digunakan masyarakat. Bersama kawasan Kota Lama Surabaya yang telah direvitalisasi, Jembatan Merah menjadi salah satu destinasi favorit bagi wisatawan yang ingin menelusuri sejarah perjuangan kemerdekaan.
4. Tugu Pahlawan dan Museum Sepuluh Nopember

Berbicara mengenai perjuangan rakyat Surabaya, Tugu Pahlawan menjadi destinasi yang tidak boleh dilewatkan. Monumen setinggi 41,15 meter ini dibangun untuk mengenang keberanian arek-arek Surabaya dalam Pertempuran 10 November 1945.
Di bawah kompleks monumen terdapat Museum Sepuluh Nopember yang menyimpan diorama perang, arsip perjuangan, koleksi senjata, hingga rekaman pidato Bung Tomo yang membakar semangat rakyat saat itu. Museum ini menjadi tempat yang tepat untuk memahami kronologi perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Hingga tahun 2026, kawasan Tugu Pahlawan tidak hanya menjadi tempat mengenang perjuangan arek-arek Surabaya, tetapi semakin aktif dimanfaatkan sebagai ruang edukasi sejarah.
Pemkot Surabaya rutin menggelar berbagai kegiatan seperti Senja Budaya, pertunjukan seni, hingga teatrikal Pertempuran Surabaya yang menyasar generasi muda agar lebih mengenal sejarah perjuangan bangsa.

Museum Sepuluh Nopember juga semakin aktif menghadirkan berbagai program edukasi, mulai dari pameran tematik, pertunjukan budaya, hingga kegiatan yang melibatkan pelajar sebagai bagian dari upaya mengenalkan sejarah perjuangan Surabaya kepada generasi muda.
5. Gedung Siola

Gedung Siola merupakan salah satu bangunan kolonial paling terkenal di Jalan Tunjungan. Pada masa Hindia Belanda, gedung ini dikenal sebagai pusat perbelanjaan Whiteaway Laidlaw. Setelah Indonesia merdeka, bangunan ini sempat menjadi lokasi pertahanan arek-arek Surabaya dalam Pertempuran 10 November.
Kini Gedung Siola difungsikan sebagai Museum Surabaya yang menyimpan berbagai koleksi mengenai sejarah perkembangan kota, budaya, hingga kehidupan masyarakat Surabaya dari masa ke masa.
6. Monumen Kapal Selam (Monkasel)

Tak semua perjuangan mempertahankan kedaulatan Indonesia terjadi di daratan. Monumen Kapal Selam atau Monkasel menghadirkan kisah perjuangan TNI Angkatan Laut melalui KRI Pasopati 410.
Kapal selam ini pernah terlibat dalam Operasi Trikora untuk mendukung pengembalian Irian Barat ke pangkuan Indonesia. Kini pengunjung dapat masuk ke dalam kapal dan melihat langsung ruang kendali, ruang torpedo, hingga ruang awak kapal yang masih dipertahankan seperti aslinya.
Pada 2026, Monkasel juga meraih penghargaan The Most Sustainable Urban Tourism dalam Surabaya Tourism Awards berkat upayanya menjaga warisan sejarah sekaligus mengembangkan wisata edukasi.
Selain menjadi museum kapal selam terbesar di Indonesia, Monkasel juga masih aktif menjadi lokasi berbagai kegiatan edukasi dan wisata sejarah. Lokasinya di pusat kota membuat Monkasel menjadi salah satu tujuan favorit wisata keluarga maupun pelajar yang ingin mengenal sejarah TNI Angkatan Laut dan Operasi Trikora.
7. Penjara Kalisosok

Penjara Kalisosok merupakan salah satu bangunan kolonial yang menyimpan kisah kelam perjuangan bangsa. Sejumlah tokoh nasional seperti W R Supratman, HOS Tjokroaminoto, hingga dr Moestopo pernah ditahan di tempat ini.
Pada masa penjajahan, para tahanan diperlakukan dengan sangat keras, mulai dari dirantai menggunakan bola besi hingga menghadapi berbagai penyakit yang menyebabkan banyak korban meninggal dunia.
Walaupun belum dibuka sebagai destinasi wisata umum, Penjara Kalisosok masih berdiri sebagai bangunan cagar budaya yang menjadi pengingat atas kerasnya perjuangan melawan penjajahan.
8. Gedung Bank Mandiri Eks NV Lindeteves-Stokvis

Bangunan bergaya kolonial di Jalan Pahlawan ini awalnya merupakan kantor perusahaan dagang NV Lindeteves-Stokvis yang dibangun pada awal abad ke-20. Saat pendudukan Jepang, gedung ini pernah dimanfaatkan sebagai bengkel kendaraan militer dan gudang persenjataan.
Setelah Indonesia merdeka, bangunan tersebut beberapa kali berganti fungsi hingga kini digunakan sebagai kantor Bank Mandiri. Selain nilai sejarahnya, gedung ini juga menjadi salah satu bangunan ikonik di kawasan bersejarah Surabaya.
9. Gedung Cerutu

Gedung Cerutu mudah dikenali dari menara kecil di bagian atap yang menyerupai cerutu. Bangunan yang berada di Jalan Rajawali ini dahulu merupakan kantor perusahaan gula pada masa kolonial Belanda.
Lokasinya yang berhadapan dengan Gedung Internatio menjadikan Gedung Cerutu bagian dari kawasan bersejarah Kota Lama Surabaya. Kini bangunan tersebut telah ditetapkan sebagai cagar budaya dan menjadi salah satu objek favorit untuk wisata sejarah maupun fotografi.
10. Gedung Negara Grahadi

Gedung Negara Grahadi merupakan rumah dinas Gubernur Jawa Timur yang memiliki sejarah panjang sejak masa kolonial. Bangunan bergaya neoklasik ini pernah menjadi lokasi berbagai pertemuan penting, termasuk upaya diplomasi antara Presiden Soekarno dengan pihak Sekutu pada masa awal kemerdekaan.
Hingga kini Grahadi tetap difungsikan sebagai rumah dinas gubernur sekaligus bangunan cagar budaya. Pada 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga melakukan pemugaran pada bagian bangunan yang terdampak kebakaran pada 2025 dengan tetap mempertahankan keaslian arsitekturnya.
Jika berencana menghabiskan libur 17 Agustus di Jawa Timur, menyusuri jejak sejarah di Kota Pahlawan bisa menjadi pilihan wisata yang tak hanya menarik, tetapi juga sarat nilai edukasi dan nasionalisme. Selain menambah wawasan, pengalaman ini juga menjadi cara sederhana untuk mengenang jasa para pejuang bangsa.
Sumber: detikjatim
