SMARTSURABAYA.COM – Ketergantungan industri pengalengan ikan terhadap kaleng impor mulai dipangkas. Sebuah langkah besar dilakukan pabrik pengolahan ikan PT Sunrise Masami Internasional di Banyuwangi, Jawa Timur, dengan membangun industri kaleng sendiri melalui investasi sekitar Rp 200 Miliar.
Langkah itu ditempuh dengan menggandeng mitra industri dari Tiongkok untuk memproduksi badan kaleng (body) hingga tutup kaleng di dalam negeri. Selama ini, kebutuhan kaleng untuk industri makanan masih didominasi produk impor.
Direktur pemasaran PT Sunrise Masami Internasional, Sherly Indrawati Aminoto, mengatakan bahwa sebelumnya sekitar 90-100 persen kebutuhan komponen kaleng masih didatangkan dari luar negeri.
Kini, menurut dia, perusahaan mulai membangun rantai pasok dari hulu agar tidak lagi bergantung pada impor.
“Kaleng itu sebenarnya terdiri dari dua industri berbeda, yaitu body dan tutup. Selama ini kami sudah memproduksi body, sekarang kami investasi membuat tutupnya karena justru di situlah nilai tambah dan keuntungan yang lebih besar,” kata Sherly, Jumat (3/7/2026).
Investasi yang digelontorkan untuk pengembangan industri kaleng tersebut mencapai sekitar Rp 200 miliar.
Tetapi, dengan fasilitas baru itu, perusahaan tidak hanya memenuhi kebutuhan internal, melainkan juga menargetkan pasar nasional hingga ekspor.
Produksi pabrik kaleng itu mencapai sekitar 50 juta unit setiap bulan atau sekitar 600 juta kaleng per tahun. Namun, kapasitas tersebut saat ini masih seluruhnya terserap untuk memenuhi kebutuhan produksi perusahaan sendiri.
“Belum sempat dijual ke luar karena kebutuhan kami sendiri sudah habis terserap. Artinya kapasitas masih harus terus ditambah,” ungkapnya.
Menurut Sherly, memproduksi tutup kaleng bukan pekerjaan sederhana. Komponen tersebut justru menjadi bagian paling rumit dalam industri pengalengan karena membutuhkan teknologi presisi tinggi agar kemasan benar-benar kedap udara dan aman untuk produk pangan.
Perusahaan memilih menggunakan aluminium untuk tutup kaleng karena dinilai lebih tahan korosi dibanding material lain. Sementara badan kaleng menggunakan material tin free steel (TFS) yang umum digunakan dalam industri makanan.
Dengan seluruh proses produksi dilakukan di dalam negeri, dia menyebut, perusahaan mampu menekan biaya produksi kaleng sekitar 10-15 persen dibanding ketika masih bergantung pada produk impor.
Sherly mengatakan, efisiensi itu sekaligus memperkuat daya saing produk olahan ikan Indonesia di pasar internasional yang selama ini menjadi tujuan utama ekspor perusahaan.
Selain mengurangi biaya, pembangunan industri hulu tersebut juga dinilai memberi dampak ekonomi yang lebih luas karena nilai investasi, pembelian bahan, hingga aktivitas produksi berlangsung di Indonesia.
“Kalau industrinya ada di dalam negeri, uangnya berputar di Indonesia, investasi tinggal di Indonesia, dan manfaat ekonominya juga lebih besar,” katanya.
Saat ini, fasilitas produksi kaleng tersebut menyerap sekitar 100-200 tenaga kerja. Seiring peningkatan kapasitas produksi, jumlah pekerja diperkirakan masih akan terus bertambah.
Ke depan, Sherly mengungkapkan, perusahaan juga membuka peluang mengekspor produk kaleng sebagai komoditas tersendiri, tidak hanya digunakan sebagai kemasan produk olahan ikan, sehingga Indonesia berpeluang menjadi pemasok kaleng makanan bagi pasar internasional.
Sumber: kompas.com
