SMARTSURABAYA.COM – Sebanyak enam kecamatan di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, dipetakan rawan mengalami kekeringan selama musim kemarau 2026.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang, enam kecamatan rawan kekeringan adalah Kecamatan Gucialit, Padang, Ranuyoso, Klakah, Kedungjajang, dan Senduro.
Dari enam kecamatan tersebut, sedikitnya ada 19 desa yang terancam kekurangan air bersih selama musim kemarau.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lumajang, Isnugroho, mengatakan bahwa saat ini pihaknya sudah melakukan langkah mitigasi dengan penyaluran air bersih di sejumlah titik rawan kekeringan.
“Kami tidak ingin bergerak ketika masyarakat sudah kekurangan air bersih. Karenanya, mitigasi kami lakukan sejak awal agar ketika puncak musim kemarau datang, pemerintah dan masyarakat sudah sama-sama siap,” kata Isnugroho di Lumajang, Jumat (10/7/2026).
Isnugroho menambahkan, Kecamatan Gucialit dan Ranuyoso menjadi perhatian khusus penanganan kekeringan di Lumajang.
Pasalnya, dalam lima musim kemarau terakhir, wilayah itu tercatat sebagai salah satu daerah dengan kebutuhan dropping air bersih paling tinggi.
“Ada beberapa kecamatan yang selama ini selalu mengalami kekurangan air bersih, ini kita akan mitigasi agar kebutuhan airnya cukup melalui tangki-tangki yang kita punya,” ujarnya.
Selain kekurangan air bersih, Isnugroho menyebut, ancaman lain yang dihadapi warga adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) maupun kebakaran rumah.
Sedikitnya, sejak Juli 2026, sudah ada tiga lahan tebu dan dua rumah warga yang mengalami kabakaran.
Lebih lanjut, Isnugroho mengatakan, keberhasilan penanganan bencana tidak hanya bergantung pada pemerintah.
Dia mengajak masyarakat turut berperan aktif melaporkan potensi kekeringan maupun kebakaran kepada pemerintah desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas, atau langsung kepada BPBD.
“Bencana akan lebih cepat tertangani apabila semua pihak bergerak bersama. Warga dapat melapor kepada kepala desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas maupun langsung kepada BPBD. Setelah laporan diterima, kami segera melakukan asesmen untuk menentukan langkah penanganan sesuai kondisi di lapangan,” pungkasnya.
Sumber: kompas.com
