SMARTSURABAYA.COM – Pagi itu, Rudy Saputra berjalan pelan di antara deretan selada hijau yang tumbuh rapi di instalasi hidroponik miliknya di Desa Sumberagung, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur.
Sesekali tangannya memeriksa daun yang mulai mengembang, memastikan tak ada hama atau nutrisi yang terlewat.
Sulit membayangkan, kebun kecil yang kini rutin memasok sayuran ke sejumlah restoran itu berawal dari rasa penasaran seorang lulusan SMK Teknik Pemesinan yang melihat unggahan di Facebook.
Saat sebagian besar anak muda menghabiskan waktu luang dengan berselancar di media sosial, Rudy Saputra lulusan SMK Teknik Pemesinan menjadi petani hidroponik justru menemukan jalan hidupnya dari sana.
“Awalnya saya lihat di Facebook ada yang membahas hidroponik. Kok kelihatannya menarik, bersih, dan saya berpikir petani sekarang tidak harus selalu berlumur lumpur. Dari situ saya ingin mencoba,” ujarnya ditemui dikebun sederhana miliknya Rabu (15/7/2026)
Belajar Bertani dari Media Sosial
Lulus dari SMK Teknik Pemesinan pada 2017, Rudy sama sekali tidak memiliki bekal ilmu pertanian.
Semua yang ia pelajari berasal dari rasa ingin tahu. Ia menghabiskan waktu membaca diskusi di komunitas Facebook, menonton video di YouTube, lalu mencoba sendiri di halaman rumah.
Keberanian itu dimulai dengan modal yang sangat kecil, hanya Rp 200.000.
Uang tersebut dibelikan tiga batang paralon bekas, sebuah pompa akuarium, dan tandon nutrisi sederhana. Instalasi pertamanya bahkan belum ditujukan untuk mencari keuntungan.
“Waktu awal tidak saya jual. Saya tanam kangkung dan sayuran untuk konsumsi sendiri. Saya belajar dulu bagaimana cara menanam,” imbuhnya
Belajar ternyata tidak selalu berbuah manis. Selama berbulan-bulan Rudy harus menerima kenyataan benih yang ditanam berkali-kali gagal tumbuh optimal.
Penyebabnya sederhana, tetapi baru ia pahami setelah bergabung dengan komunitas hidroponik, yakni jenis benih yang dipilih tidak sesuai dengan karakter di lingkungannya.
“Yang paling sulit justru menentukan benih. Saya sempat mencoba beberapa jenis, seperti jenis slada untuk ditanam di tanah karena di wisyah sini banyak petani slada, tetapi tidak cocok. Akhirnya saya dapat rekomendasi dari teman-teman komunitas menggunakan varietas Caipira. Alhamdulillah hasilnya bagus sampai sekarang,” katanya.
Dari kegagalan itu, Rudy belajar bahwa bertani bukan sekadar menanam. Dibutuhkan ketelitian membaca karakter benih, cuaca, hingga kebutuhan nutrisi tanaman.
“Tiga bulan gagal total, banyak beih tidak tumbuh karena ternyata untuk system hidroponik itu benihnya ada sendiri bukan untuk slada di tanam ditanah,” jelasnya sambil tersenyum.
Perlahan, kebunnya berkembang. Dari hanya tiga batang paralon, kini Rudy memiliki sekitar 1.400 lubang tanam yang dikelola secara bergilir.
Setiap pekan selalu ada meja tanam yang dipanen, sementara meja lain memasuki masa penyemaian dan pembesaran.
“Satu meja bisa menghasilkan sekitar 40 kilogram selada. Jadi setiap minggu tetap ada panen,” ucapnya.
Dokter speedometer
Namun, kehidupan Rudy tidak hanya berkutat di kebun. Ketika matahari tenggelam dan sebagian orang mulai beristirahat, ia justru memulai pekerjaan keduanya.
Di sebuah ruang sederhana di rumahnya, Rudy memperbaiki spidometer elektronik sepeda motor yang rusak.
Kemampuan itu ia peroleh dari ilmu teknik yang dipelajarinya semasa sekolah. Hampir setiap malam ia menerima kiriman spidometer dari bengkel-bengkel sepeda motor di Magetan.
“Kebanyakan yang menghubungi saya bengkel. Dalam semalam biasanya saya mengerjakan satu sampai tiga spidometer yang rusak,” ujarnya.
Rudy memiliki akun @dr speedometer untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Dari pekerjaannya sebagai tenaga servis speedometer ia megnkau bisa menabung untuk menambah luasan lubang tanam slada miliknya.
Saat ini dia berhasil menyulap perkarangan di depan rumah dengan bangunan semi greenhouse.
“Lumayan ada tambahan lahan biaya dari servis speedometer. Disamping ini lahannya 8X11 kalauyang diepan itu 5X5,” jelasnya.
Menjaga kepercayaan pasar
Usai menyelesaikan pekerjaannya sebagai teknisi, Rudy belum benar-benar menutup hari. Ia kembali menuju kebun hidroponik.
Malam hari menjadi waktu favoritnya untuk menyemai benih dan memindahkan bibit selada ke instalasi tanam. Baginya, bekerja saat udara dingin bukan sekadar mengejar waktu.
“Kalau pemindahan bibit dilakukan malam hari, tanaman tidak mudah stres karena suhunya lebih sejuk. Jadi lebih cepat beradaptasi,” katanya.
Rutinitas itu membuat hari-harinya nyaris tanpa jeda. Siang ia mengawasi pertumbuhan tanaman dan melayani pembeli.
Malam hari ia memperbaiki spidometer, lalu kembali menjadi petani yang menyiapkan siklus tanam berikutnya. Itu semua dilakukan demi menjaga kepercayaan pasar pelanggannya.
“Dari teliti agar kualitas sladanya tetap renyah dan segar. Jenis slada yang kita tanam ini berbeda dengan slada yang ditanam petani di sekitar sini karena lebih tahan layu dan rasanya lebih manis. Kualitas ini menjaga kepercayana pelanggan,” tutur dia.
Bertahan Saat Harga Turun
Meski harga selada sedang turun akibat panen raya di kawasan Plaosan, Rudy tetap bersyukur karena hasil panennya hampir selalu habis terserap pasar.
Saat ini harga selada hanya sekitar Rp 15.000 per kilogram, lebih rendah dibanding harga normal yang bisa mencapai Rp 20.000 hingga Rp 30.000 per kilogram.
“Harga memang lagi turun karena panen raya. Tapi alhamdulillah hasil panen saya tetap ada yang mengambil,” katanya.
Selada segar hasil budidayanya tidak pernah dijual di pasar. Slada salada tersebut itu langsung dibeli pengepul maupun restoran yang sudah menjadi pelanggan tetap.
“Mayoritas langsung diambil restoran dan pengepul. Saya tidak pernah jual ke pasar,” ujarnya.
Bagi Rudy, hidroponik bukan pekerjaan yang berat secara fisik. Justru tantangan terbesarnya adalah menjaga konsistensi.
ia harus rutin mengecek nutrisi, pH air, kondisi akar, hingga memastikan tanaman tidak terserang penyakit. Semua itu membutuhkan kesabaran.
“Kalau mengurus tanaman itu harus jujur sama prosesnya, teliti, sabar, dan telaten. Tidak bisa asal,” katanya.
Menanam Harapan untuk Anak Muda
Keuntungan yang diperoleh dari kebun hidroponik maupun jasa servis spidometer belum banyak ia nikmati. Hampir semuanya kembali diputar menjadi modal usaha.
Rudy masih menyimpan mimpi memperluas kebun hidroponiknya jika kelak menemukan lahan yang lebih luas.
“Rencananya memang ingin menambah lahan. Sekarang masih mencari tempat yang cocok sambal megnumpulkan modal karena modal saat ini masih diputar untuk menambah jumlah lobang tanam,” ujarnya.
Di tengah kesibukan itu, cukup banyak anak muda yang datang ke rumahnya sekadar ingin belajar hidroponik.
Rudy tak pernah menolak. Ia percaya semakin banyak generasi muda yang terjun ke pertanian, semakin besar peluang sektor itu berkembang.
“Mulai saja dulu. Pasar sayuran itu selalu ada. Yang penting mau belajar, mau mencoba, dan jangan cepat menyerah,” katanya.
Rudy membuktikan bahwa harapan tidak selalu datang dari pekerjaan yang dianggap mapan.
Berawal dari unggahan Facebook, bermodal Rp 200.000, lalu menjalani dua profesi sekaligus sebagai petani hidroponik dan teknisi spidometer sepeda motor, ia berhasil membangun kehidupan dengan caranya sendiri.
Di kebun kecil yang hijau itu, Rudy bukan hanya menanam selada. Ia sedang menanam keyakinan bahwa bertani tetap bisa menjadi masa depan bagi anak-anak muda Indonesia.
Sumber: kompas.com
