SMARTSURABAYA.COM – Puluhan siswa SD Karya Putra di kawasan Kalianak Timur Belakang, Kecamatan Krembangan, Surabaya, tetap mengikuti kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) meski sekolah mereka terendam banjir rob, Jumat (17/7/2026).
Genangan air merendam halaman sekolah hingga masuk ke dua ruang kelas. Kondisi serupa juga terjadi di permukiman warga dan sebuah masjid di sekitar lokasi.
“Kalau besar baru semuanya terendam. Kalau tidak terlalu besar ya biasanya dua kelas ini yang sering kena,” kata guru SD Karya Putra, Nanda, saat ditemui di lokasi, Jumat.
Siswa Belajar di Tengah Genangan
Meski ruang kelas terdampak banjir, kegiatan belajar tetap berlangsung. Siswa kelas VI yang ruang belajarnya tergenang tetap mengikuti pelajaran dengan mengenakan sandal, bahkan sebagian tidak memakai alas kaki.
SD Karya Putra yang berdiri sejak sekitar 1997 itu memiliki sekitar 195 siswa dan telah lama menjadi langganan banjir rob.
Nanda mengatakan, banjir rob kini datang lebih sering dibandingkan beberapa tahun lalu.
“Mulai ada pelebaran sungai itu malah tambah sering,” ujarnya.
Menurut dia, pihak sekolah hanya bisa menyesuaikan proses belajar saat air mulai masuk ke ruang kelas.
“Yang kasihan anak-anak. Harapan kami pemerintah bisa memberikan bantuan supaya anak-anak tidak belajar dalam kondisi banjir lagi,” katanya.
Siswa Diminta Membawa Sandal
Guru SD Karya Putra lainnya, Yuli, mengatakan para siswa sudah terbiasa menghadapi banjir rob sehingga kegiatan belajar tetap berjalan.
Saat musim rob, siswa biasanya diminta membawa sandal sebagai antisipasi.
“Terpaksa harus bawa sandal saat banjir rob, biasanya orang tua juga jemput,” ujarnya.
Yuli juga mengingat banjir rob yang sempat datang ketika siswa mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA) pada tahun lalu.
“Waktu itu anak-anak sedang mengerjakan ujian TKA. Banjir datang saat kegiatan berlangsung, jadi tetap mengerjakan ujian dalam kondisi banjir,” tuturnya.
Warga: Banjir Rob Makin Parah
Warga Kalianak Timur Belakang, Hendro (63), mengatakan banjir rob telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di kawasan tersebut. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, ketinggian air semakin meningkat.
“Saya 63 tahun di sini ya sudah banjir. Tapi akhir-akhir ini makin parah tingginya,” kata Hendro.
Menurutnya, sedikitnya lima rukun tetangga (RT) terdampak setiap kali banjir rob terjadi. Meski demikian, warga tetap beraktivitas seperti biasa.
Selain menggenangi permukiman dan sekolah, banjir rob juga meluber ke Jalan Kalianak.
Akibatnya, kendaraan pribadi maupun truk harus memperlambat laju saat melintasi ruas jalan tersebut.
Sumber: kompas.com
