SMARTSURABAYA.COM – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) terus meluas secara signifikan.
Hingga Jumat (7/8/2026), luas area vegetasi yang terbakar diperkirakan telah mencapai sekitar 120 hektare, meluas dari laporan sebelumnya yang mencatat 80 hektare pada Kamis (6/8/2026) sore dan 51 hektare pada Rabu (5/8/2026) malam.
Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha mengonfirmasi bahwa berdasarkan perhitungan sementara, sebaran api terbanyak berada di wilayah Kabupaten Probolinggo, sementara sisanya merembet ke kawasan Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang.
Mengapa Kebakaran di Bromo Meluas Begitu Cepat?
Lantas, apa yang menyebabkan kobaran api di kawasan TNBTS menjalar begitu cepat hingga lintas wilayah kabupaten? Berdasarkan keterangan BPBD Jawa Timur, Balai Besar TNBTS, serta tim gabungan di lapangan, terdapat sejumlah faktor utama yang memicu percepatan laju karhutla di lereng Bromo:
1. Hembusan Angin Kencang pada Siang Hari
Faktor utama penyeberangan api adalah kondisi cuaca ekstrem di area pegunungan. Pada pagi hingga siang hari, embusan angin bertiup cukup kencang ke arah barat dengan kecepatan sedang. Angin kencang ini menerbangkan bara api dan percikan vegetasi terbakar ke titik-titik baru (spotting), sehingga api dengan mudah melompati sekat alami dan mempercepat perluasan lahan yang terbakar.
2. Vegetasi Kering Musim Kemarau yang Mudah Terbakar
Vegetasi yang dilahap api meliputi cemara gunung, mentigen, akasia, hingga semak belukar dan rumput ilalang. Material organik yang mengering di sepanjang musim kemarau menjadi bahan bakar alami yang sangat rentan menyulut kobaran api besar hanya dalam waktu singkat.
3. Kontur Medan Terjal dan Dinding Kaldera Curam
Titik kebakaran berada di kawasan lereng-lereng curam dan dinding Kaldera Tengger, cekungan raksasa berdiameter 8 hingga 10 kilometer dengan kedalaman dinding mencapai ratusan meter. Topografi ekstrem ini menyulitkan petugas pemadam darat untuk membawa peralatan berat maupun mengular selang air menuju pusat titik api.
4. Perubahan Cuaca Ekstrem dan Kabut Tebal Sore Hari
Selain angin kencang di siang hari, tantangan besar muncul ketika memasuki pukul 15.00 WIB. Kawasan Bromo secara konsisten tertutup kabut tebal yang mereduksi jarak pandang secara ekstrem. Kondisi ini membuat operasi pemadaman jalur darat maupun penggunaan teknologi pemadam udara (drone water spray) terhenti demi keselamatan personel.
Apa Kendala Pemadaman dan Strategi Bantuan Udara?

Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto mengungkapkan bahwa kendala cuaca dan medan membuat pemadaman darat membutuhkan dukungan armada udara secara masif.
“Kendalanya cuaca. Pagi sampai siang kondisinya memang cerah dan panas. Tapi, anginnya sangat kencang sehingga api cepat menyebar ke area baru. Setelah pukul 3 sore kawasan Bromo biasanya tertutup kabut sehingga proses pemadaman baik jalur darat maupun menggunakan drone tidak bisa dilakukan secara maksimal,” tegas Gatot di Surabaya, Kamis (6/8/2026).
Untuk mengatasi area terjal yang tidak terjangkau jalur darat, pemerintah memprioritaskan operasi water bombing menggunakan helikopter dan drone water spray.
1. Dua Helikopter Water Bombing: Pemerintah menyiapkan dua armada helikopter berkapasitas muat sekitar 1 ton air per helikopter. Satu armada berasal dari TNI Angkatan Laut (atas permintaan Gubernur Jatim) dan satu unit armada BNPB yang diterbangkan dari Palangkaraya via Banjarmasin menuju Surabaya.
2. Drone Water Spray: Tim memanfaatkan drone pemadam berkapasitas tangki 150 liter air yang disokong armada truk tangki BPBD untuk membasahi area dinding kaldera Bromo.
3. Modifikasi Cuaca (OMC): BPBD Jatim telah berkoordinasi dengan BMKG dan BNPB, namun Operasi Modifikasi Cuaca belum dapat dilaksanakan karena potensi pertumbuhan awan hujan di lokasi belum memenuhi syarat.
“Benar, rencananya ada dua helikopter. Yang pertama dari TNI AL atas permintaan Ibu Gubernur. Yang kedua dari BNPB yang saat ini sedang dalam perjalanan dari Banjarmasin menuju Surabaya,” terang Rudijanta.
Di Mana Titik Awal Api dan Apa Penyebabnya?

Awal mula kebakaran terdeteksi di Blok Bantengan TNBTS pada Senin (3/8/2026) sekitar pukul 17.00 WIB. Balai Besar TNBTS mengonfirmasi bahwa titik awal api berasal dari jalur kecilan (trabasan) yang biasa dilalui warga lokal menuju lahan pertanian, bukan dari lokasi kawasan wisata utama.
Pranata Humas Balai Besar TNBTS Endrip Wahyutama menegaskan bahwa penyelidikan penyebab pasti kebakaran baru akan digelar setelah seluruh titik api berhasil dikendalikan.
“Titik awalnya di Blok Bantengan, masuk wilayah Lumajang. Tapi itu jalan trabasan, hanya jalan kecil yang biasa dilalui warga. Sumbernya di atas, bukan lokasi wisata, bukan jalur umum juga. Kami sementara ini sampai hari keempat masih fokus pemadaman. Sedangkan asesmen penyebabnya setelah itu. Kami nanti juga akan mencarikan tim investigasi untuk mengungkap penyebabnya,” ujar Endrip.
Sejauh Mana Persebaran Rembetan Api?
Pergerakan api yang mengarah ke barat melintasi tugu perbatasan Kabupaten Malang hingga sejauh 2,5 kilometer. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang Sadono Irawan menyebutkan api membakar vegetasi di area lereng.
“Berdasarkan pengamatan sekitar 80 hektare yang terbakar, nanti biasanya dari TNBTS akan ditinjau menggunakan drone untuk menghitung luasan kebakaran. Rembetan api mengarah ke Kabupaten Malang sejauh 2,5 kilometer dari tugu perbatasan,” jelas Sadono.
Sementara di Kabupaten Lumajang, Kepala BPBD Lumajang Isnugroho melaporkan api merembet ke lereng Blok Jantur menuju Argosari/Puncak B29. Tim Reaksi Cepat (TRC) dikerahkan untuk membuat sekat bakar (firebreak).
Kendati demikian, Kabid Destinasi Dinas Pariwisata Lumajang Galih Permadi menyatakan kawasan wisata Puncak B29 masih dibuka terbatas karena jarak titik api masih terbilang jauh dari area berkemah.
Di sisi lain, BPBD Kabupaten Pasuruan menyiagakan ratusan personel dari Desa Tangguh Bencana (Destana) dan Masyarakat Peduli Api (MPA) di Kecamatan Tosari dan Tutur untuk mengantisipasi rembetan api ke wilayah Pasuruan.
“Peralatan sudah kami siapkan, mulai tangki air, gebyok, hingga bak penampung portable. Nanti kita lihat progres dari helikopter yang nantinya akan diketahui, kemudian disesuaikan langkah penanganannya,” ungkap Kalaksa BPBD Pasuruan Sugeng Hariadi.
Untuk menjaga keselamatan pengguna jalan, Kasi Humas Polres Malang AKP Budiono menyatakan pihaknya memberlakukan sistem buka-tutup selektif prioritas di jalur Malang-Lumajang via Poncokusumo/Ranupani, khususnya saat asap tebal atau api mendekati bahu jalan di Pos Jemplang.
Apakah Wisata Bromo Ditutup?

Guna menjamin keselamatan wisatawan dan memperlancar jalannya operasi pemadaman, Balai Besar TNBTS membatasi dan menutup sementara sejumlah pintu masuk utama wisata Bromo:
Pintu Masuk Tutup Total:
- Pintu Masuk Jemplang dan Coban Trisula (Kabupaten Malang)
- Pintu Masuk Senduro (Kabupaten Lumajang)
Pintu Masuk Buka Terbatas (Maksimal Lautan Pasir):
- Pintu Masuk Cemoro Lawang (Kabupaten Probolinggo)
- Pintu Masuk Wonokitri (Kabupaten Pasuruan)
Wisatawan yang masuk melalui Probolinggo dan Pasuruan dilarang keras mendekati area savana atau kawasan perbukitan yang terdampak karhutla. Pemprov Jawa Timur bersama Balai Besar TNBTS saat ini masih melakukan pendataan dan perhitungan total nilai kerugian ekonomi serta kerusakan ekosistem akibat bencana kebakaran tersebut.
Sumber: kompas.com
