SMARTSURABAYA.COM – Harga minyak dunia mengalami penurunan yang sangat tajam sesaat setelah Donald Trump mengumumkan gencatan senjata sementara selama dua minggu, yang menghentikan sementara konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Setelah pernyataan tersebut, Iran menyatakan akan membuka kembali blokade Selat Hormuz selama dua minggu. Sebelumnya, jalur ini sempat ditutup tidak lama setelah serangan AS dan Israel pada 28 Februari.
Pembukaan Selat Hormuz memungkinkan kapal-kapal pengangkut minyak dan kargo lain yang sebelumnya tertahan di kawasan Teluk Persia untuk kembali melintas di jalur maritim yang sangat vital tersebut. Reaksi pasar terjadi dengan cepat.
Harga minyak turun drastis hanya dalam hitungan menit dari puncak sekitar 116 dolar AS per barel menjadi di bawah 100 dolar. Harga minyak mentah berjangka AS bahkan merosot lebih dari 15 persen setelah jam perdagangan reguler, hingga berada di bawah 95 dolar per barel.
Meski penurunan ini tergolong signifikan, harga tersebut masih jauh lebih tinggi dibandingkan harga penutupan pada 27 Februari yang berada di angka 67,02 dolar per barel, sebelum konflik dimulai. Sementara itu, minyak mentah Brent sebagai acuan global turun 12,88 persen menjadi 95,12 dolar per barel.
Di sisi lain, pasar saham merespons positif. Indeks berjangka di Amerika Serikat dan pasar Asia menunjukkan penguatan. Indeks Dow Jones berjangka melonjak lebih dari 900 poin atau sekitar 2 persen, indeks S&P 500 berjangka naik sekitar 2,1 persen, dan Nasdaq berjangka meningkat sekitar 2,5 persen dalam perdagangan setelah jam kerja.
Pada Rabu pagi, indeks acuan Jepang, Nikkei 225, naik 4,4 persen pada pukul 09.30 waktu setempat. Sementara itu, indeks Kospi di Korea Selatan menguat 5,6 persen, sebagaimana dilaporkan oleh BBC.
Penurunan tajam harga minyak ini mencerminkan respons langsung pasar global terhadap kabar gencatan senjata setelah periode ketegangan militer yang sebelumnya mendorong lonjakan biaya energi.
“Pasar sangat ingin mendapatkan kabar baik, tetapi masih harus dilihat apakah Selat Hormuz akan terbuka sepenuhnya,” kata Bob McNally kepada CNN, Rabu (8/4/2026).
“Itulah inti permasalahannya, dan sejauh ini Washington dan Teheran tampaknya saling berbicara tanpa mencapai kesepakatan mengenai hal itu,” lanjutnya.
Sebelumnya, Trump menyampaikan bahwa dialog dengan Iran akan terus dilanjutkan guna mengakhiri konflik, sementara pihak Iran menegaskan bahwa gencatan senjata sementara belum dapat dianggap sebagai akhir perang.
Iran menegaskan bahwa konflik baru akan dianggap benar-benar berakhir jika Amerika Serikat dan Israel mematuhi setiap kesepakatan yang dicapai ke depan. Para analis menilai bahwa gencatan senjata sementara ini menunjukkan kuatnya posisi Iran dalam mengendalikan Selat Hormuz, yang berperan besar dalam memengaruhi stabilitas pasar energi global dan berpotensi memicu krisis energi.
Art Hogan menyatakan bahwa penurunan harga minyak mencerminkan harapan investor agar konflik segera berakhir dan Selat Hormuz kembali dibuka. “Investor ingin Selat Hormuz dibuka dan konflik ini berakhir,” ujarnya.
Sementara itu, Patrick De Haan menilai bahwa gencatan senjata sementara belum memberikan kejelasan mengenai situasi di Selat Hormuz. Pendapat serupa disampaikan oleh Karl Schamotta, yang menilai bahwa kendali Iran atas jalur tersebut telah terbukti mampu mengguncang pasar energi global secara cepat.
“Di luar jangka pendek, rezim penguasa Iran (bisa dibilang) telah memperkuat kendali politiknya, dan telah menunjukkan kemampuannya untuk membuat pasar minyak dan gas global bertekuk lutut,” katanya kepada CNN, pada Selasa (7/4/2026) malam.
Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran bermula pada 28 Februari 2026 ketika AS dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah wilayah di Iran. Serangan ini terjadi hanya dua hari setelah putaran ketiga perundingan terkait program nuklir Iran yang berlangsung di Jenewa, Swiss.
Amerika Serikat dan Israel menuduh Iran berupaya memperkaya uranium untuk mengembangkan senjata nuklir. Namun, Iran membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa program nuklirnya bertujuan untuk kepentingan energi sipil.
Dalam konflik tersebut, sedikitnya 1.900 orang dilaporkan tewas akibat serangan dari kedua belah pihak. Sebagai respons atas serangan tersebut, Iran menghentikan jalur diplomasi dengan AS dan melancarkan serangan balasan ke berbagai fasilitas militer milik AS dan Israel di kawasan Timur Tengah, termasuk di Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab.
Iran juga sempat memblokade Selat Hormuz, jalur distribusi energi global yang sangat strategis, yang kemudian menyebabkan lonjakan tajam harga minyak dunia. Di tengah kekhawatiran akan krisis energi global akibat penutupan jalur tersebut, Trump menyatakan bahwa AS dan Iran terus berupaya membuka ruang perundingan.
Upaya ini akhirnya menghasilkan kesepakatan gencatan senjata sementara pada Selasa (6/4/2026), dengan Pakistan bertindak sebagai mediator.
Sumber: Tribunnews.com
