SMARTSURABAYA.COM – Munculnya baliho dengan tulisan “Aku Harus Mati” di berbagai sudut kota belakangan ini tidak hanya menarik perhatian publik, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran serius dari kalangan medis terkait dampaknya terhadap kesehatan mental masyarakat.
Di tengah meningkatnya kesadaran akan pentingnya isu kesehatan jiwa, pesan visual yang mengandung narasi kematian tanpa konteks yang bijak dinilai berpotensi menjadi pemicu berbahaya, terutama bagi individu yang sedang berada dalam kondisi psikologis rentan seperti depresi, trauma, atau memiliki kecenderungan ide bunuh diri.
Alih-alih sekadar menjadi strategi promosi, konten semacam ini dikhawatirkan justru memperkuat pikiran negatif dan meningkatkan risiko krisis pada kelompok tertentu.
Psikiater Lahargo Kembaren menegaskan bahwa dari sudut pandang kesehatan jiwa, pesan tersebut tidak dapat dianggap hanya sebagai judul film atau materi pemasaran biasa.
“Bagi individu yang sedang mengalami depresi, perasaan putus asa (hopelessness), trauma, atau memiliki ide bunuh diri laten, paparan seperti ini dapat menjadi trigger psikologis yang serius,” ujarnya, Selasa (7/4/2026).
Ia menjelaskan bahwa dalam kajian suicidologi terdapat fenomena suicide contagion atau copycat suicide, yakni perilaku bunuh diri yang dapat terpicu oleh paparan informasi atau visual terkait kematian.
Fenomena ini juga dikenal sebagai Werther Effect, di mana paparan berulang terhadap pesan tertentu dapat memengaruhi individu yang sedang berada dalam kondisi rentan.
Menurut Lahargo, kalimat seperti “Aku Harus Mati” yang ditampilkan secara visual di ruang publik, terlebih dengan nuansa dramatis atau menyeramkan, tidak lagi sekadar berfungsi sebagai media promosi. Dalam kondisi tertentu, pesan tersebut dapat berubah menjadi isyarat psikologis yang memicu respons berbahaya.
“Banner itu tidak lagi sekadar media promosi, tapi dapat berubah menjadi cue psikologis yang berbahaya,” ungkapnya. Ia menguraikan bahwa terdapat beberapa mekanisme psikologis yang mungkin terjadi akibat paparan tersebut.
Salah satunya adalah priming effect, yakni kondisi ketika kata atau gambar tertentu memicu munculnya pikiran yang sejenis. Kalimat yang mengarah pada kematian berpotensi menimbulkan asosiasi negatif, khususnya pada individu yang mengalami depresi atau kecemasan.
Selain itu, terdapat pula cognitive reinforcement, yaitu penguatan terhadap pola pikir negatif yang telah ada sebelumnya. Individu dengan depresi umumnya memiliki pikiran otomatis seperti merasa tidak berharga atau hidupnya tidak bermakna, sehingga paparan pesan yang sejalan dapat semakin memperdalam keyakinan tersebut.
Faktor lainnya adalah emotional suggestibility, di mana individu terutama remaja atau mereka yang sedang berada dalam kondisi emosional rapuh lebih mudah terpengaruh oleh rangsangan visual. Visual yang dramatis dapat meningkatkan risiko peniruan perilaku, khususnya pada kelompok usia muda.
Lahargo menegaskan bahwa paparan visual seperti ini memang bukan satu-satunya penyebab, tetapi dapat menjadi pemicu bagi individu dengan kerentanan tertentu.
Faktor risiko tersebut meliputi depresi, gangguan bipolar, psikosis, trauma atau PTSD, pengalaman perundungan (bullying), konflik keluarga, kesepian, masalah relasi, adiksi digital, impulsivitas, hingga tekanan finansial dan krisis spiritual.
Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa lebih dari 700.000 orang meninggal akibat bunuh diri setiap tahun di seluruh dunia, atau setara dengan satu orang setiap 40 detik. Angka ini menggambarkan bahwa banyak individu yang tampak baik-baik saja di permukaan, namun sebenarnya tengah berjuang menghadapi tekanan berat secara diam-diam.
“Tidak semua yang viral aman bagi jiwa. Ada judul yang menjual rasa takut, tetapi bisa melukai mereka yang sedang berjuang untuk tetap hidup,” kata Lahargo.
Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya tanggung jawab bersama dalam menyampaikan pesan di ruang publik. Sensitivitas terhadap isu kesehatan mental perlu menjadi pertimbangan utama, tidak hanya dari sisi kreativitas, tetapi juga dari aspek keselamatan masyarakat.
Kontak Bantuan
Bunuh diri bukanlah solusi dari permasalahan hidup. Jika Anda, teman, atau anggota keluarga sedang mengalami masa sulit, merasa tertekan, atau memiliki dorongan untuk menyakiti diri sendiri, segera cari bantuan profesional melalui layanan kesehatan jiwa di puskesmas atau rumah sakit terdekat. Dukungan yang tepat dapat membantu melewati masa sulit dengan lebih aman.
Sumber: Tribunkesehatan
