SMARTSURABAYA.COM – Pemerintah Rusia memperluas peluang studi bagi mahasiswa Indonesia dengan membuka beasiswa penuh di sekitar 400 program studi pada ratusan perguruan tinggi negeri.
Bersamaan dengan itu, lulusan perguruan tinggi Rusia kini tidak lagi diwajibkan menjalani proses penyetaraan ijazah di Indonesia.
Program tersebut disosialisasikan kepada sivitas akademika Universitas Jember (Unej), Kamis (2/7/2026).
Beasiswa mencakup jenjang sarjana hingga doktoral dengan fasilitas berupa pembebasan biaya kuliah, tunjangan hidup, serta pelatihan bahasa Rusia selama satu tahun sebelum perkuliahan dimulai.
Wakil Rektor IV Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi Unej Bambang Kuswandi mengatakan, peluang tersebut menjadi alternatif bagi dosen dan mahasiswa yang selama ini lebih banyak melanjutkan studi ke negara-negara seperti Eropa Barat, Australia, maupun Jepang.
Menurut dia, Rusia memiliki kekuatan di bidang riset dan pendidikan tinggi, khususnya pada disiplin ilmu sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM).
“Kesempatan seperti ini membuka pilihan baru bagi sivitas akademika untuk melanjutkan studi sekaligus memperluas jejaring akademik di tingkat internasional,” kata Bambang.
Ia berharap program tersebut tidak hanya mendorong mobilitas mahasiswa dan dosen, tetapi juga menjadi pintu masuk kerja sama yang lebih luas antara Unej dan perguruan tinggi di Rusia, termasuk kolaborasi riset di bidang pertanian industrial berkelanjutan.
Lulusan Rusia Tak Lagi Wajib Menyetarakan Ijazah
Direktur Rumah Rusia di Indonesia, Nikita Shilikov, mengatakan Rusia saat ini menampung sekitar 400.000 mahasiswa asing, termasuk sekitar 2.000 mahasiswa asal Indonesia.
Menurut dia, kualitas pendidikan tinggi di Rusia kompetitif dengan biaya hidup yang relatif lebih terjangkau dibandingkan banyak negara di Eropa.
Nikita menjelaskan, hubungan pendidikan Indonesia dan Rusia semakin erat setelah kedua negara menandatangani kerja sama di bidang pendidikan pada 2025.
“Sejak kerja sama itu berlaku, lulusan perguruan tinggi Rusia tidak lagi memerlukan penyetaraan ijazah di Indonesia,” ujarnya.
Ia menambahkan, hubungan pendidikan kedua negara sebenarnya telah terjalin sejak era Presiden Soekarno, ketika mahasiswa Indonesia mulai dikirim untuk menempuh pendidikan di Rusia.
Selain itu, Rusia dinilai semakin ramah bagi mahasiswa Indonesia karena Islam merupakan agama dengan jumlah pemeluk terbesar kedua setelah Kristen Ortodoks sehingga masjid mudah ditemukan di berbagai kota besar.
Seleksi Berdasarkan Kuota Indonesia
Sementara itu, Manajer Proyek Rumah Rusia Adrian Putra Rayana mengatakan, seleksi penerima beasiswa dilakukan berdasarkan kuota masing-masing negara.
Dengan mekanisme tersebut, pelamar asal Indonesia hanya bersaing dengan sesama warga Indonesia, termasuk pendaftar dari Unej.
Setiap peserta juga dapat memilih satu program studi di enam perguruan tinggi negeri Rusia yang diinginkan.
“Pendaftaran dibuka setiap September sehingga masih ada waktu bagi calon pendaftar untuk mempersiapkan diri,” kata Adrian.
Sumber: Kompas.com
