SMARTSURABAYA.COM – Di Dusun Mojo, Desa Singgahan, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, menyimpan sebuah kesenian yang tak dimiliki daerah lain. Namanya Tari Keling.
Di tengah kemasyhuran Reog Ponorogo yang telah mendunia, tarian ini tetap hidup di dusun kecil di lereng perbukitan itu, diwariskan dari orangtua kepada anak, dari kakek kepada cucu, tanpa pernah berpindah rumah.
Suara dua kentongan menjadi penanda dimulainya pertunjukan. Belasan laki-laki bertubuh hitam legam melangkah pelan membawa tombak, pedang, panah, dan gada.
Di belakang mereka, enam penari perempuan mengenakan busana dari karung goni dengan ikat kepala bulu ayam. Tak ada topeng dadak merak ataupun suara slompret sebagaimana Reog. Tari Keling memiliki dunianya sendiri, lengkap dengan cerita yang terus dijaga warga Dusun Mojo.
Cerita Raja Kerajaan Tambas Keling bernama Bagaspati
Di balik setiap langkah para penari, tersimpan kisah lama tentang Raja Kerajaan Tambas Keling bernama Bagaspati yang jatuh hati kepada putri kembar Kerajaan Ngerum, Sekar Arum dan Sekar Sari.
Bagaspati datang membawa lamaran bersama prajurit-prajurit bertubuh hitam. Namun, pinangannya ditolak.
Penolakan itu berubah menjadi amarah. Kedua putri diculik dan dibawa pergi meninggalkan kerajaan.
Raja Ngerum, Prabu Indra Jaya, kemudian menggelar sayembara. Siapapun yang mampu membawa pulang kedua putrinya akan mendapat penghormatan kerajaan.
Pertarungan panjang pun terjadi hingga akhirnya Joko Tawang dari Padepokan Waringin Putih berhasil mengalahkan Bagaspati.
Kedua putri kembali ke istana, sementara prajurit Tambas Keling yang tertangkap dipaksa memikul mahkota berbentuk barongan sebagai lambang kemenangan. Sepanjang perjalanan pulang, tabuhan gendang dan kentongan dimainkan sebagai ungkapan sukacita.
Cerita itulah yang hingga kini terus dipentaskan dalam Tari Keling.
“Bahkan, kalau di dusun ini, Tari Keling sudah ada sebelum Reog. Kami hanya meneruskan apa yang diwariskan nenek moyang. Asal-usul pastinya memang belum diketahui,” ujar sesepuh Dusun Mojo, Wiyoto, saat ditemui dirumahnya, Rabu (8/7/2026).
Jejak Tari Keling sejak Tahun 1922
Di usianya yang tak lagi muda, Wiyoto menjadi salah seorang penjaga ingatan kampung. Dia menghafal setiap tokoh, setiap adegan, hingga filosofi yang terkandung dalam pertunjukan.
Baginya, Tari Keling bukan sekadar hiburan rakyat, melainkan warisan yang menyimpan jejak sejarah masyarakat Dusun Mojo.
Menurut cerita yang diterimanya dari para leluhur, kesenian itu telah ada sejak masa kakek buyutnya, Karyonawi, sekitar tahun 1922.
Saat itu, Dusun Mojo sedang menghadapi masa yang sangat berat. Kemarau panjang menyebabkan gagal panen. Persediaan pangan menipis. Kesulitan itu terasa semakin menyayat karena terjadi bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri.
Dalam kondisi serba sulit tersebut, para sesepuh desa berkumpul. Mereka mencari cara agar masyarakat tidak tenggelam dalam keputusasaan. Dari pertemuan itulah lahir sebuah prosesi yang memadukan doa, hiburan, dan harapan, yang kemudian dikenal sebagai Tari Keling.
“Dulu orangtua kami bercerita, seni ini dipakai supaya masyarakat tetap kuat menghadapi paceklik,” kata Wiyoto.
Setiap kali Tari Keling dipentaskan, rombongan penari berjalan menuju sumber mata air desa yang dikenal dengan nama Kucur. Di tempat itu, mereka melakukan tarian menetap atau iker, sebelum melanjutkan perjalanan mengelilingi dusun bersama warga.
Prosesi tersebut menjadi simbol permohonan agar kehidupan masyarakat tetap diberi keselamatan, hasil panen yang baik, dan dijauhkan dari masa paceklik seperti yang pernah dialami leluhur mereka. Karena itu pula, Tari Keling tidak dipentaskan setiap waktu.
“Seni ini hanya ditampilkan pada bulan Suro, Hari Raya Idul Fitri, dan hari-hari tertentu lainnya,” ujar Wiyoto.
Keistimewaan Tari Keling Tak Berhenti pada Cerita maupun Ritual
Keunikan dari Tari Keling lainnya adalah seluruh pemainnya berasal dari Dusun Mojo. Anak-anak desa tumbuh dengan menyaksikan ayah, paman, dan kakeknya menari. Ketika dewasa, mereka bergantian mengenakan kostum yang sama dan menghidupkan kembali kisah yang diwariskan para leluhur.
“Yang main Keling ya anak-anak dusun saja. Dulu pernah ada daerah lain yang mencoba membuat seni seperti ini, tetapi hanya sekali tampil setelah itu berhenti,” ungkap Wiyoto.
Nama “Keling” sendiri masih menyimpan misteri. Menurut Wiyoto, istilah tersebut berkaitan dengan kisah Suku Keling dalam Babad Tanah Jawi yang dikaitkan dengan Syekh Subakir.
Meski demikian, hingga kini belum ditemukan bukti sejarah yang memastikan bahwa suku tersebut pernah bermukim di Dusun Mojo.
“Di Babad Tanah Jawi memang ada cerita tentang Suku Keling. Tetapi, kalau ada cerita mereka sampai di Dusun Mojo, kami belum menemukan arsipnya,” katanya.
Menjaga Tari Keling Berarti Menjaga Identitas
Lulus Setiawan (32), yang telah enam tahun menjadi penari, harus melumuri seluruh tubuhnya dengan campuran bubuk arang dan minyak kelapa setiap kali akan tampil. Proses itu membutuhkan kesabaran dan sering kali menghadirkan pengalaman yang tak terlupakan ketika pentas di luar daerah.
“Kalau mau tampil di luar daerah, kami sering harus minta izin dulu waktu mewarnai tubuh karena takut mengotori tempat. Mau ke kamar mandi juga sering jadi perhatian orang,” ujarnya sambil tersenyum.
Namun, semua itu tak pernah membuatnya berpikir untuk berhenti. Baginya, warna hitam yang menempel di tubuh bukan sekadar riasan, melainkan lambang bahwa dia sedang memerankan prajurit dalam cerita yang telah diwariskan turun-temurun oleh leluhurnya.
Tari Keling bagian Perjalanan Panjang Ponorogo
Pemerhati budaya Universitas Negeri Surabaya, Setyo Yanuarti, menilai Tari Keling menyimpan nilai sejarah yang sangat penting.
Berdasarkan penelusuran awal yang sedang dilakukannya bersama mahasiswa, kesenian ini diperkirakan lahir pada masa peralihan Mataram Hindu menuju Mataram Islam, sekitar abad ke-8 hingga ke-10.
Jika hasil penelitian itu nantinya terbukti, Tari Keling diduga memiliki usia yang lebih tua dibandingkan Reog Ponorogo. Meski demikian, dia menegaskan temuan tersebut masih membutuhkan penelitian lebih mendalam.
“Kalau melihat historis dan penelitian awal, Tari Keling muncul pada masa Islam mulai masuk ke Jawa. Tetapi ini masih terus kami teliti,” ujarnya.
Menurut Setyo, karakter penari bertubuh hitam, penggunaan senjata tradisional, hingga unsur ritual yang masih dipertahankan menunjukkan bahwa Tari Keling bukan sekadar kesenian pertunjukan, melainkan bagian dari perjalanan panjang masyarakat Ponorogo.
Di tengah arus modernisasi, Tari Keling mungkin belum sepopuler Reog. Namun, bagi warga Dusun Mojo, kesenian itu bukan tentang seberapa sering dipentaskan atau seberapa banyak penontonnya.
Selama kentongan masih ditabuh, anak-anak dusun masih bersedia mengenakan tubuh hitam dari arang, dan cerita tentang Bagaspati serta dua putri Kerajaan Ngerum masih diceritakan dari satu generasi ke generasi berikutnya, Tari Keling akan tetap hidup.
Sebab bagi Dusun Mojo, Tari Keling bukan sekadar warisan budaya. Melainkan, cara sebuah kampung menjaga ingatan tentang leluhur, mengenang masa paceklik yang pernah menguji kehidupan, dan menitipkan harapan agar kisah itu tidak pernah hilang ditelan zaman.
Sumber: kompas.com
