SMARTSURABAYA.COM – Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, kembali menegaskan pandangannya mengenai makna kepemimpinan yang sesungguhnya. Menurutnya, keberhasilan seorang pemimpin tidak seharusnya diukur dari banyaknya penghargaan yang diterima ataupun tingkat popularitas di media sosial, melainkan dari kemampuan dalam menggerakkan semangat gotong royong demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Bagi Wali Kota Eri, pemimpin harus mampu hadir dan memberikan dampak nyata bagi kehidupan warga melalui kebijakan yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.
Pandangan tersebut disampaikan Wali Kota Eri saat menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan “Seminar Sehari: Kepemimpinan Nusantara” yang digelar di Gedung Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga pada Selasa (12/5/2026).
Dalam forum tersebut, ia memaparkan berbagai pendekatan kepemimpinan yang selama ini diterapkan di Kota Surabaya, terutama yang berkaitan dengan penguatan nilai sosial dan pemberdayaan masyarakat.
Dalam pemaparannya, Wali Kota Eri menyebut bahwa Kota Surabaya telah memperoleh berbagai pengakuan dan penghargaan di tingkat internasional.
Beberapa di antaranya adalah predikat Kota Layak Anak tingkat dunia hingga pengakuan sebagai bagian dari UNESCO Learning City. Meski demikian, ia menilai penghargaan tersebut bukanlah tujuan utama dalam menjalankan pemerintahan.
Menurutnya, pencapaian sesungguhnya adalah ketika masyarakat dapat merasakan perubahan nyata dalam kualitas hidup mereka.
“Penghargaan apa pun yang diberikan kepada wali kota atau jajaran Pemkot Surabaya, jika tujuh indikator utama seperti kemiskinan, pengangguran, stunting, dan angka kematian ibu tidak berubah, maka sejatinya pemimpin itu gagal,” tegas Wali Kota Eri.
Ia menjelaskan bahwa konsep kepemimpinan yang diterapkannya di Surabaya berlandaskan nilai-nilai Pancasila yang selaras dengan ajaran agama, khususnya semangat tolong-menolong dan kebersamaan.
Menurutnya, Pancasila tidak boleh hanya menjadi sekadar hafalan atau slogan dalam upacara formal, melainkan harus diwujudkan dalam kebijakan sosial maupun ekonomi yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
“Gotong royong adalah inti Pancasila. Saya ingin membangkitkan kembali kekuatan ini melalui Kampung Pancasila. Contoh kecilnya, mari beli kebutuhan pokok di tetangga sendiri, di toko kelontong sekitar rumah, jangan hanya ke toko modern. Itulah cara kita saling menghidupi,” ujarnya.
Pada periode kepemimpinannya saat ini, Wali Kota Eri mengaku lebih memprioritaskan pembangunan sumber daya manusia (SDM) dibanding pembangunan fisik semata. Ia menilai pembangunan manusia menjadi fondasi penting dalam menciptakan kota yang kuat dan berkelanjutan.
Salah satu inovasi yang diterapkan adalah mewajibkan Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemkot Surabaya untuk berkantor di Balai RW sejak tahun 2020 agar lebih dekat dengan masyarakat serta memahami persoalan warga secara langsung di lapangan.
“Kota Surabaya ini, menjadi satu-satunya kota di Indonesia di mana seluruh ASN muslim mengeluarkan zakat profesi secara kolektif, yang kini dikelola untuk membantu warga miskin,” jelasnya.
Selain penguatan SDM, Wali Kota Eri juga menyoroti perubahan pola pelayanan publik di Surabaya. Menurutnya, pelayanan pemerintah tidak boleh lagi terjebak pada pola birokrasi yang kaku dan berbelit.
Karena itu, Pemkot Surabaya mulai menerapkan sistem pelayanan yang menyesuaikan dengan siklus kehidupan masyarakat, mulai dari masa kehamilan sebagai upaya pencegahan stunting hingga pelayanan bagi warga lanjut usia.
Pendekatan tersebut dilakukan agar pelayanan publik menjadi lebih tepat sasaran dan menyentuh kebutuhan masyarakat di setiap tahap kehidupan. Wali Kota yang akrab disapa Cak Eri itu juga menekankan bahwa keberhasilan pembangunan kota tidak dapat dilakukan oleh pemerintah semata, melainkan membutuhkan kolaborasi dari seluruh elemen masyarakat.
Ia ingin membangun budaya kepemimpinan kolektif, di mana masyarakat ikut terlibat aktif dalam menyelesaikan berbagai persoalan sosial di lingkungannya masing-masing.
“Saya ingin bergerak bersama warga untuk membangun kota ini. Sehingga ada Kader Surabaya Hebat (KSH) yang siap menolong warga, RW yang bergerak, pengusaha yang menjadi orang tua asuh bagi anak yatim, dan kampus yang turun langsung ke masyarakat. Jika masyarakat sudah merasakan itu, barulah saya berhasil menjadi pemimpin,” pungkasnya.
Melalui berbagai program dan pendekatan tersebut, Pemkot Surabaya berharap semangat gotong royong serta kepedulian sosial dapat terus tumbuh di tengah masyarakat.
Wali Kota Eri juga menegaskan bahwa kepemimpinan yang efektif bukan hanya tentang membangun infrastruktur atau meraih penghargaan, tetapi tentang bagaimana pemerintah mampu menghadirkan perubahan yang nyata, inklusif, dan dirasakan langsung oleh seluruh lapisan masyarakat.
Sumber: Surabaya.go.id
