SMARTSURABAYA.COM, JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memberikan respons cepat untuk meredam kepanikan pasar terkait fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang kian dinamis dalam beberapa waktu terakhir. Otoritas fiskal menegaskan bahwa pelemahan mata uang garuda yang sempat menembus level psikologis baru tersebut sama sekali tidak mencerminkan adanya tanda-tanda keretakan mendasar pada sistem perekonomian nasional. Sebaliknya, indikator makroekonomi domestik dan struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diklaim masih berada dalam koridor yang sehat dan berdaya tahan tinggi. Pelemahan ini dinilai murni terjadi akibat derasnya arus sentimen psikologis negatif global yang memicu gejolak jangka pendek di pasar valuta asing.
Aparat penegak kebijakan ekonomi meminta para pelaku industri dan investor untuk tidak menyamakan tekanan pasar saat ini dengan memori kelam krisis finansial masa lalu karena struktur perbankan saat ini jauh lebih kuat. Pemerintah optimistis stabilitas nilai tukar akan segera pulih seiring dengan meredanya spekulasi eksternal serta kuatnya cadangan devisa yang dimiliki negara. “Kita tidak sedang menuju keadaan seperti 1997-1998 lagi. Fiskal kita baik, ekonominya bagus, hanya ada sentimen negatif di sana-sini yang mengganggu sedikit terhadap nilai tukar,” ujar Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, saat meninjau fasilitas pelayanan logistik negara di Jakarta.
Guna mengembalikan kepercayaan pasar secara masif, Kementerian Keuangan berkomitmen untuk semakin memperketat sinergitas bauran kebijakan dengan Bank Indonesia (BI) selaku pemegang otoritas moneter tertinggi. Sinkronisasi yang erat antara stimulus fiskal dari pemerintah dan intervensi moneter dari bank sentral dinilai menjadi kunci utama untuk meredam volatilitas nilai tukar secara signifikan di pasar spot maupun domestik. Pemerintah juga secara tegas menolak usulan dari sejumlah pihak untuk menggelar rapat darurat bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Langkah tersebut dinilai belum diperlukan karena instrumen pengawasan pasar yang dijalankan oleh BI sejauh ini masih berjalan sangat efektif dan berada di bawah kendali penuh.
Kendati situasi dinilai aman, pemerintah tidak tinggal diam dan diam-diam telah melancarkan aksi korporasi negara yang taktis di pasar sekunder demi menjaga psikologis para investor pemegang aset. Langkah konkret yang diambil adalah dengan melakukan intervensi terukur berupa pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar obligasi dengan total realisasi anggaran mencapai lebih dari Rp8 triliun. Intervensi likuiditas ini terbukti ampuh menstabilkan tingkat imbal hasil (yield) obligasi pemerintah untuk tenor 10 tahun agar tidak melonjak tajam akibat aksi jual massal. “Mungkin Rp8 triliun lebih yang di obligasi ya. Tapi katanya nggak boleh diomongin, nggak apa-apa biar Anda tahu saya intervensi sedikit,” beber Purbaya di hadapan jajaran legislatif di Gedung DPR RI.
Tantangan utama yang dihadapi pemerintah ke depan adalah konsistensi dalam menjaga ekspektasi positif para pelaku pasar di tengah ketidakpastian arah kebijakan suku bunga global. Penguatan koordinasi internal akan terus digencarkan untuk memastikan bahwa daya saing ekspor nasional tetap terjaga dan inflasi domestik tidak terimbas oleh lonjakan biaya impor. Dengan fundamental ekonomi yang kokoh serta respon kebijakan yang terukur, pemerintah optimistis arus modal asing akan segera kembali masuk ke pasar keuangan dalam negeri. Sinergi penuh ini diyakini akan menjadi jangkar kuat yang mampu mengapresiasi kembali nilai tukar rupiah ke level yang lebih rasional dalam jangka menengah.
Sumber: Tribun Network
