SMARTSURABAYA.COM – Universitas Airlangga (Unair) mengirim tim kesehatan ke Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk membantu penanganan korban gempa magnitudo 7,7 yang terjadi pada Sabtu (15/8/2026). Tim awal tersebut bertugas mengidentifikasi kondisi lapangan, memetakan kebutuhan medis, serta membantu penanganan korban pada fase akut pascagempa.
Rektor Unair Prof Muhammad Madyan mengatakan, sebagai institusi pendidikan tinggi, kampus memiliki tanggung jawab untuk turut hadir memberikan manfaat bagi masyarakat dalam situasi kebencanaan.
“Kami sebagai institusi pendidikan tinggi juga turut berbelasungkawa atas bencana yang melanda NTT. Penerjunan ini menjadi wujud kontribusi dan respons Unair. Kami berharap tim bisa memberi manfaat bagi penanganan pasca bencana di lokasi,” kata Prof Madyan, Rabu (19/8/2026).
Koordinator Bantuan Medis Garda Ksatria Airlangga sekaligus Koordinator Program Studi Orthopedi dan Traumatologi FK Unair, dr Teddy Wardhana Sp OT, mengatakan, tim kesehatan yang diberangkatkan terdiri dari tiga orang.
Tim tersebut melibatkan PPDS, satu dokter senior spesialis anestesi dan orthopedi, serta seorang PPDS yang merupakan putra daerah setempat. Tim juga mendapat dukungan dari perawat anestesi dan orthopedi.
Menurut Teddy, tim akan mengakses kebutuhan riil di lapangan sekaligus berkoordinasi dengan BPBD dan tim kesehatan setempat. Rencana awal, tim akan menuju rumah sakit umum yang saat ini membutuhkan perhatian.
“Kami juga membawa perlengkapan operasi, anestesi, dan berbagai kebutuhan pendukung sehingga dapat bekerja secara mandiri selama berada di lokasi. Prioritas kami adalah korban-korban yang membutuhkan penanganan segera. Jumlah dokter bedah dan anestesi di sana tidak banyak. Sehingga, kami berharap bisa membantu fase akut dari trauma ini,” jelas dr Teddy.
Unair juga berkoordinasi dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Orthopaedi & Traumatologi Indonesia (PABOI) untuk memperkuat jejaring penanganan medis di wilayah terdampak.
Teddy mengatakan, keberangkatan pada fase akut memungkinkan tim membantu korban yang masih belum memperoleh penanganan medis. Tim juga akan mendata kebutuhan riil yang ditemukan di lapangan, termasuk dukungan psikologis bagi penyintas yang mengalami trauma pascabencana.
“Harapannya, dengan adanya tim aju ini mendata dan mengidentifikasi, tim berikutnya bisa menyusul dengan kebutuhan yang komprehensif. Misalnya kebutuhan PTSD, kita bisa mengirimkan teman-teman dari Psikologi,” harapnya.
Sementara itu, Dekan FK Unair Prof Dr Eighty Mardiyan K, dr, SpOG. SubSpUrogin-RE yang turut hadir dalam pelepasan di Gedung Rektorat lantai 4 mengatakan, penugasan tersebut merupakan salah satu bagian dari implementasi sebagai institusi pendidikan yang berdampak.
“Semoga tim dapat menjalankan tugas dengan baik dan kembali dalam keadaan sehat dan selamat. Aamiin,” pungkas Prof Eighty.
Sumber: detikjatim
