SMARTSURABAYA.COM – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo menyiapkan langkah penguatan edukasi kepada masyarakat dan menerapkan sistem peringatan dini (early warning system) untuk mencegah terjadinya kembali kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meluas di Gunung Bromo, yang merupakan kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).
“Insya Allah kami nanti dari pemerintah daerah siap melakukan edukasi kepada masyarakat sekitar. Ini yang paling penting karena ini bukan hanya terkait dengan wisatawan, tetapi juga edukasi terhadap masyarakat sekitar, masyarakat Tengger dan lain sebagainya,” kata Bupati Probolinggo Mohammad Haris dalam keterangannya, Senin.
Menurutnya, upaya pencegahan kebakaran di kawasan Gunung Bromo tidak cukup hanya menyasar wisatawan, namun masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan konservasi, termasuk masyarakat Tengger juga perlu mendapatkan edukasi secara berkelanjutan.
“Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga kelestarian kawasan Bromo, terlebih saat kondisi cuaca panas dan kering disertai angin kencang, potensi kebakaran menjadi semakin tinggi,” tuturnya.
Selain edukasi, Bupati Haris mengusulkan adanya peta risiko karhutla serta sistem peringatan dini. Kedua instrumen tersebut dapat membantu pemerintah dan masyarakat mengetahui potensi ancaman kebakaran lebih cepat sehingga langkah mitigasi dapat segera dilakukan.
“Kami juga berharap ada peta risiko dan ada early warning untuk ke depan. Insya Allah nanti kami siapkan, pemerintah daerah akan support penuh agar karhutla tidak terjadi lagi,” katanya.
Sebelumnya, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni saat meninjau karhutla di Bromo pada Minggu (9/8) mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran, seperti membuang puntung rokok sembarangan maupun membuka lahan dengan cara membakar.
“Jangan ada lagi yang bermain api, apakah itu puntung rokok atau yang lebih nakal lagi land clearing, terutama di luar Jawa,” katanya dengan tegas.
Untuk mempercepat penanganan karhutla Bromo, lanjut dia, kawasan TNBTS ditutup sementara secara total karena kebijakan tersebut dilakukan agar petugas dapat berkonsentrasi melakukan pemadaman sekaligus menjaga keselamatan masyarakat.
Ia menjelaskan pemerintah juga mengerahkan tiga helikopter untuk operasi water bombing hingga 30 kali penyiraman dari udara direncanakan dilakukan untuk menjangkau titik api yang berada di lokasi sulit dijangkau pasukan darat.
“Mohon doa supaya cuaca terbaik, supaya nanti bisa genap 30 dan titik-titik api itu bisa dipadamkan. Terutama di lereng yang memang tidak bisa dijangkau oleh pasukan darat,” ujar Raja Juli.
Selain pemadaman dari udara, petugas melakukan penanganan dari darat dengan membuat sekat bakar di sejumlah lokasi. Namun, medan terjal dan kondisi angin kencang menjadi tantangan tersendiri.
Sumber: antarajatim
