SMARTSURABAYA.COM – Pondok Pesantren Wali Barokah Kediri, Jawa Timur, menekankan pentingnya penguatan karakter santri untuk menghadapi berbagai tantangan perkembangan teknologi, salah satunya termasuk kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Ketua Pesantren Wali Barokah Kediri K.H. Sunarto mengatakan kemajuan teknologi tidak dapat dihindari sehingga perlu dimanfaatkan secara bijak dan penggunaan AI harus tetap diimbangi dengan kemampuan berpikir, berusaha, serta memahami kewajiban dalam menjalankan ajaran agama.
“AI itu sesuatu yang tidak bisa dihindari. Manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya tetapi jangan kemudian kita tidak mempertimbangkan aspek kemudaratannya,” ujarnya di Kediri, Senin.
Menurut dia, penggunaan AI secara berlebihan berpotensi membuat seseorang menjadi malas berpikir dan berusaha. Karena itu, lembaga pendidikan di lingkungan pesantren memiliki tanggung jawab mempersiapkan generasi penerus agar mampu memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan karakter dan nilai-nilai luhur.
Ia menyebutkan para santri tidak hanya diarahkan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki karakter baik serta memahami kewajiban beragama.
“Kami secara serius mempersiapkan generasi penerus yang ada di pondok ini agar memiliki karakter yang baik yaitu 29 karakter luhur,” katanya.
Dalam momentum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan RI, ia menilai salah satu yang menjadi tantangan pendidikan adalah mempersiapkan generasi penerus di tengah perkembangan zaman yang semakin kompleks.
Ia mengatakan pesantren dan lembaga pendidikan di dalamnya diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi perkembangan bangsa, terutama dalam upaya menyelamatkan dan mempersiapkan generasi penerus.
Dalam kesempatan itu, Pondok Pesantren Wali Barokah Kediri juga menggelar perlombaan permainan tradisional kegiatan untuk memeriahkan peringatan HUT ke-81 RI.
Ia berharap pengenalan permainan tradisional kepada generasi muda dapat menumbuhkan penghargaan terhadap kebudayaan sekaligus menghargai perjuangan dan karya generasi sebelumnya.
“Walaupun permainan sekarang lebih modern, lebih canggih lagi, justru akar yang tidak boleh tercabut dari kebudayaan kita adalah masa lalu kita,” ujarnya.
Sumber: antarajatim
