SMARTSURABAYA.COM – Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, memberikan tanggapan terkait dugaan keracunan yang dialami sejumlah siswa di kawasan Tembok Dukuh setelah mengonsumsi program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Senin (11/5/2026).
Menyikapi kejadian tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bergerak cepat dengan melakukan penelusuran awal serta memanggil pihak sekolah yang berkaitan untuk mengumpulkan informasi dan memastikan kronologi kejadian secara menyeluruh.
Langkah ini dilakukan agar penanganan dapat berjalan maksimal sekaligus mencegah munculnya kesimpulan yang belum berdasarkan hasil pemeriksaan resmi. Dalam keterangannya, Wali Kota Eri menegaskan bahwa makanan dalam program MBG sebenarnya telah melalui proses pengecekan sebelum dibagikan kepada para siswa.
Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk memastikan kualitas makanan tetap layak konsumsi, mulai dari aroma, rasa, hingga kondisi makanan secara umum. Menurutnya, pada saat dilakukan pengecekan awal tidak ditemukan tanda-tanda makanan rusak maupun basi.
“Tidak ada yang menjurus ke basi atau lainnya. Tapi setelah dua jam, terjadi kejadian ini,” kata Wali Kota Eri, Selasa (12/5/2026).
Lebih lanjut, Wali Kota Eri menjelaskan bahwa hingga kini Pemkot Surabaya masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui secara pasti penyebab dugaan keracunan tersebut. Pemeriksaan laboratorium dilakukan terhadap sampel makanan yang dikonsumsi siswa dalam program MBG.
Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak ingin terburu-buru menyimpulkan penyebab insiden sebelum hasil resmi dari laboratorium keluar. “Karena itu masih dilabkan, hasilnya seperti apa masih kita tunggu ya,” kata Wali Kota Eri.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, Billy Daniel Messakh, turut menyampaikan perkembangan penanganan kasus tersebut. Ia mengatakan bahwa pihaknya masih menunggu hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan MBG yang telah dikirim untuk diperiksa lebih lanjut.
Di sisi lain, Dinkes juga terus melakukan pemantauan terhadap kondisi para siswa yang mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan tersebut.dr Billy menjelaskan bahwa terdapat dua siswa tambahan yang mengalami gejala muntah dan diare sehingga harus mendapatkan perawatan inap di RSIA IBI Surabaya.
Sebelumnya, pada Senin (11/5/2026) sore, sudah ada tiga siswa yang lebih dulu dirawat akibat kondisi serupa. Dengan demikian, total siswa yang menjalani perawatan medis saat ini mencapai lima orang.
“Sebelumnya tiga, pada Senin (11/5/2026) sore. Pagi tadi nambah dua siswa. Jadi total ada lima anak yang dirawat,” kata dr Billy.
Ia menambahkan, kelima siswa tersebut saat ini masih berada dalam pengawasan serta observasi tim medis guna memastikan kondisi kesehatannya terus membaik. Selain melakukan perawatan, Dinkes Surabaya juga telah menerjunkan tim kesehatan dari puskesmas untuk melakukan skrining kesehatan kepada siswa lain sebagai langkah antisipasi dan pemantauan lanjutan.
“Skrining kesehatan juga telah dilakukan pada Senin lalu oleh tim dokter dari puskesmas,” ujarnya. Terkait proses pemeriksaan laboratorium, dr Billy menyebut hasil uji diperkirakan baru dapat diketahui dalam waktu lima hingga tujuh hari ke depan.
Sampel makanan saat ini sedang diperiksa di laboratorium Kementerian Kesehatan yang berada di kawasan Karang Menjangan. Karena itu, pihaknya belum dapat memastikan penyebab pasti dugaan keracunan sebelum hasil resmi laboratorium diterima.
“Masih menunggu hasilnya ya, di lab Kemenkes di Karang Menjangan. Hasilnya lima sampai tujuh hari,” pungkasnya.
Pemkot Surabaya memastikan akan terus memantau perkembangan kondisi para siswa sekaligus berkoordinasi dengan pihak sekolah, tenaga kesehatan, dan instansi terkait lainnya hingga hasil pemeriksaan laboratorium selesai keluar.
Pemerintah juga menegaskan komitmennya untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG agar kualitas dan keamanan makanan yang diberikan kepada siswa tetap terjaga dengan baik.
Sumber: Surabaya.go.id
