SMARTSURABAYA.COM – Rusia menyatakan kesiapan untuk terlibat dalam upaya penyelesaian konflik Iran yang terus memanas. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menegaskan bahwa Presiden Vladimir Putin tetap menjalin komunikasi intensif dengan para pemimpin kawasan guna membuka peluang menuju perdamaian.
Sejak awal krisis, Rusia telah menawarkan berbagai proposal penyelesaian konflik dengan harapan dapat menjadi landasan tercapainya kesepakatan damai.
“Jika peran kami dibutuhkan, kami siap berkontribusi agar situasi militer segera beralih ke jalur damai,” ujar Peskov sebagaimana dikutip dari Reuters.
Langkah tersebut didasari kekhawatiran Kremlin bahwa konflik Iran berpotensi semakin tidak terkendali dan mengganggu stabilitas global, khususnya di kawasan Timur Tengah. Rusia menilai pendekatan militer justru akan memperburuk keadaan, sehingga jalur diplomasi harus menjadi prioritas utama.
Selain itu, Rusia memiliki hubungan strategis dengan Iran serta tetap menjalin komunikasi dengan pihak lain seperti Israel dan Amerika Serikat. Kondisi ini menempatkan Moskow pada posisi yang relatif unik sebagai pihak yang berpotensi menjembatani kepentingan berbagai aktor demi menjaga stabilitas kawasan, termasuk keamanan jalur energi global seperti Selat Hormuz yang sangat berpengaruh terhadap perekonomian dunia.
Upaya mediasi Rusia berlangsung seiring dengan langkah China dan Pakistan yang juga aktif mendorong penyelesaian melalui diplomasi. Kedua negara menilai dialog sebagai satu-satunya cara realistis untuk mengakhiri konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Dorongan tersebut diperkuat melalui pertemuan antara Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, dan Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, di Beijing. Pertemuan ini bertujuan meningkatkan koordinasi diplomatik serta merumuskan langkah konkret guna mendorong terciptanya perdamaian.
Dalam pernyataan resminya, kedua negara juga menekankan pentingnya menjaga keamanan jalur pelayaran strategis, terutama di Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia.
China sendiri mengambil sikap hati-hati dalam konflik ini. Meskipun sempat mengecam serangan awal terhadap Iran, Beijing lebih menitikberatkan pada upaya gencatan senjata dan stabilitas pasokan energi, mengingat posisinya sebagai salah satu importir utama minyak Iran.
Sementara itu, Pakistan berupaya memainkan peran sebagai mediator aktif. Perdana Menteri Shehbaz Sharif bersama pimpinan militer Syed Asim Munir dilaporkan telah menjalin komunikasi dengan berbagai pihak, termasuk Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Sejumlah pesan diplomatik antara pihak-pihak yang berkonflik bahkan disebut telah disalurkan melalui perantara Pakistan, menunjukkan peran strategis Islamabad dalam menjembatani komunikasi yang selama ini terhambat.
Langkah yang diambil Rusia, China, dan Pakistan mencerminkan dinamika baru dalam diplomasi global. Ketiga negara berupaya mengisi ruang yang muncul akibat meningkatnya ketegangan antara blok Barat dan Timur.
Para pengamat menilai, inisiatif tersebut tidak hanya bertujuan meredakan konflik, tetapi juga memperkuat posisi geopolitik masing-masing sebagai aktor penting dalam penyelesaian krisis internasional.
Di tengah berbagai upaya mediasi internasional untuk meredakan konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, Iran sendiri menyampaikan sikap tegas bahwa mereka tidak akan menerima solusi yang bersifat sementara.
Pemerintah Iran menegaskan bahwa gencatan senjata bukanlah tujuan akhir, melainkan penghentian perang secara menyeluruh. Pernyataan ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam wawancara dengan Al Jazeera pada Selasa (31/3/2026).
Ia menegaskan bahwa fokus utama Teheran adalah menyelesaikan akar konflik, bukan sekadar menghentikan pertempuran untuk sementara waktu.
“Kami tidak menginginkan gencatan senjata. Kami menginginkan penghentian perang secara total, jaminan bebas dari serangan di masa depan, dan kompensasi,” ujar Araghchi.
Menurutnya, tuntutan tersebut mencerminkan posisi Iran dalam menghadapi konflik yang terus meningkat. Selain penghentian perang, Iran juga menginginkan jaminan keamanan jangka panjang serta kompensasi atas kerugian yang dialami selama konflik berlangsung.
Terkait isu diplomasi, Araghchi juga meluruskan informasi mengenai komunikasi antara Iran dan Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa interaksi yang terjadi saat ini belum dapat dikategorikan sebagai negosiasi formal.
Iran mengakui adanya pertukaran pesan dengan pihak Amerika Serikat, termasuk melalui utusan khusus Steve Witkoff. Namun, komunikasi tersebut disebut masih terbatas dan dilakukan melalui jalur diplomatik serta perantara di kawasan.
“Pesan-pesan tersebut disampaikan melalui Kementerian Luar Negeri, termasuk komunikasi terbatas antarbadan keamanan,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa seluruh proses komunikasi berada di bawah pengawasan ketat Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, sehingga tidak ada perundingan langsung yang berlangsung secara terbuka.
Selain aspek diplomasi, Iran juga menyoroti pentingnya menjaga stabilitas jalur pelayaran global, khususnya di Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur distribusi energi paling vital di dunia.
Araghchi memastikan bahwa Iran akan tetap menjaga jalur tersebut terbuka bagi pelayaran internasional. Namun, ia juga menegaskan bahwa akses tidak akan diberikan kepada pihak-pihak yang dianggap bersikap bermusuhan terhadap Iran.
“Langkah-langkah telah diambil untuk menjamin jalur pelayaran aman bagi kapal negara sahabat,” ujarnya.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa upaya menuju perdamaian masih menghadapi tantangan besar, terutama karena perbedaan kepentingan dan tuntutan di antara pihak-pihak yang terlibat dalam konflik.
Sumber: Tribunnews.com
