SMARTSURABAYA.COM – Kekhawatiran terhadap paparan mikroplastik kini tidak lagi terbatas pada lingkungan luar, tetapi telah masuk ke ranah paling dekat dalam kehidupan anak, termasuk pada benda-benda yang selama ini dianggap aman seperti mainan.
Fenomena ini menjadi perhatian serius seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap isu kesehatan lingkungan yang berdampak langsung pada generasi muda. Mikroplastik, yang berukuran sangat kecil dan sulit terdeteksi secara kasat mata, berpotensi hadir dalam berbagai bentuk dan tanpa disadari dapat berinteraksi dengan anak dalam aktivitas sehari-hari.
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu ini, orang tua kini dihadapkan pada realitas baru bahwa ancaman mikroplastik dapat berasal dari berbagai sumber yang sebelumnya dianggap tidak berbahaya. Paparan tersebut bisa datang dari makanan, minuman, hingga produk-produk yang digunakan anak saat bermain maupun beraktivitas.
Kondisi ini menuntut adanya peningkatan kewaspadaan serta literasi orang tua dalam memilih produk yang aman. Pemahaman terhadap bahan dasar produk menjadi sangat penting guna meminimalkan risiko jangka panjang yang dapat memengaruhi kesehatan serta tumbuh kembang anak secara menyeluruh.
Ketua IDAI Piprim Basarah Yanuarso menegaskan bahwa peran aktif orang tua sangat dibutuhkan dalam menyaring informasi terkait keamanan produk anak. Ia menekankan bahwa langkah sederhana seperti membiasakan diri membaca label dan kandungan bahan pada mainan merupakan tindakan awal yang sangat penting.
Kebiasaan ini tidak hanya membantu orang tua mengenali potensi bahaya, tetapi juga menjadi bentuk perlindungan preventif terhadap anak.
“Ya tentu kita juga memang harus membaca ya, biasakan membaca konten dari mainan yang digunakan oleh anak-anak kita,” ujarnya dalam Diskusi Dampak Cemaran Mikroplastik pada Anak & Pemeriksaan Jantung Gratis untuk Anak Disabilitas dan Autis di Jakarta Pusat, Senin (6/4/2026).
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa tidak semua jenis plastik memiliki kualitas dan tingkat keamanan yang sama. Beberapa jenis plastik tertentu diketahui berpotensi melepaskan partikel mikroplastik, terutama ketika terpapar suhu tinggi, gesekan, atau mengalami perubahan kondisi tertentu.
Situasi ini membuat pengawasan terhadap produk anak menjadi semakin krusial, khususnya dalam memilih mainan maupun perlengkapan sehari-hari. Oleh karena itu, kehati-hatian dalam memilih produk berbahan plastik perlu menjadi perhatian utama bagi setiap orang tua.
Selain meningkatkan kewaspadaan terhadap penggunaan plastik, pendekatan alternatif berbasis bahan alami mulai banyak dianjurkan sebagai solusi yang lebih aman.
Piprim menyarankan agar orang tua mempertimbangkan penggunaan alat permainan edukatif yang dibuat dari material alami seperti kayu, bambu, atau tanah liat. Bahan-bahan tersebut dinilai memiliki risiko yang lebih rendah terhadap paparan zat berbahaya serta lebih ramah terhadap lingkungan.
“Nah kalau bisa memang alat permainan edukatif dan kreatif buat anak-anak itu dari bahan-bahan yang lebih alami ya, seperti kayu,” lanjutnya.
Penggunaan bahan alami tidak hanya memberikan aspek keamanan, tetapi juga menghadirkan manfaat tambahan dalam proses perkembangan anak. Mainan berbasis material alami mampu memberikan pengalaman sensorik yang lebih kaya, sehingga dapat merangsang kreativitas, imajinasi, serta perkembangan motorik anak secara lebih optimal.
Interaksi langsung dengan tekstur alami juga membantu anak mengenal lingkungan secara lebih nyata, yang berkontribusi positif terhadap aspek kognitif dan emosional mereka. Menariknya, konsep penggunaan bahan alami dalam permainan anak sebenarnya bukanlah hal baru dalam konteks budaya Indonesia.
Sejak dahulu, anak-anak telah terbiasa bermain menggunakan bahan sederhana seperti bambu, kayu, maupun tanah liat yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Praktik ini kini kembali mendapatkan relevansi di tengah gaya hidup modern yang semakin mengedepankan aspek kesehatan dan keberlanjutan lingkungan.
Dengan demikian, nilai-nilai tradisional tersebut dapat diintegrasikan kembali sebagai solusi yang kontekstual dan adaptif terhadap tantangan masa kini.
Di sisi lain, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga mendorong para produsen untuk terus berinovasi dalam menghadirkan produk mainan yang lebih aman tanpa mengurangi nilai edukatifnya. Inovasi ini diharapkan mampu menjawab kebutuhan pasar sekaligus memberikan jaminan keamanan bagi anak.
Kolaborasi antara kesadaran orang tua dan tanggung jawab industri menjadi faktor penting dalam upaya menekan paparan mikroplastik secara lebih luas. Pada akhirnya, langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten oleh orang tua tidak seharusnya dipandang sebagai beban, melainkan sebagai bagian dari perubahan gaya hidup yang lebih sadar dan bijak.
Upaya ini dapat menciptakan lingkungan bermain yang lebih aman dan sehat bagi anak, sekaligus mendukung proses tumbuh kembang mereka secara optimal dalam jangka panjang.
Sumber: Tribunkesehatan
