SMARTSURABAYA.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mengambil langkah strategis untuk mengantisipasi dampak kenaikan harga plastik yang dinilai berpotensi memengaruhi stabilitas harga kebutuhan pokok di masyarakat.
Upaya ini dilakukan melalui pemantauan pasar secara berkala dan berkelanjutan, serta pemberian pendampingan kepada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar tetap mampu menjaga keberlangsungan produksi sekaligus mempertahankan harga jual yang tetap terjangkau di tengah tekanan biaya.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah serta Perdagangan (Dinkopumdag) Kota Surabaya, Mia Santi Dewi, menyampaikan bahwa kenaikan harga plastik yang terjadi saat ini tergolong cukup tinggi dan signifikan. Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut tidak terlepas dari berbagai faktor global yang memengaruhi rantai pasok dan harga bahan baku di tingkat internasional.
“Memang kenaikan harga plastik sekarang ini cukup signifikan ya, sekitar 30 sampai 60 persen. Jadi memang dipacu pasokan global dan harga energi di dunia yang tidak bisa kita hindari,” ujar Mia Santi Dewi.
Lebih lanjut, Mia menerangkan bahwa Pemkot Surabaya telah mengimplementasikan sejumlah langkah antisipatif untuk merespons kondisi tersebut. Upaya tersebut mencakup pemantauan intensif terhadap harga dan ketersediaan barang di pasar, serta pendampingan langsung kepada pelaku UMKM di lapangan.
Pendampingan ini bertujuan untuk membantu pelaku usaha dalam menyesuaikan strategi produksi agar tidak terlalu terdampak oleh kenaikan biaya bahan kemasan plastik.
“Dinas Koperasi UMKM serta Perdagangan Kota Surabaya sudah melakukan beberapa langkah antisipasi, monitoring harga dan ketersediaan secara rutin. Kemudian melakukan pendampingan pada UMKM di lapangan,” katanya.
Menurut Mia, dampak kenaikan harga plastik sudah mulai dirasakan oleh para pelaku usaha, terutama karena berpengaruh langsung terhadap biaya produksi. Kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan harga jual produk apabila tidak diimbangi dengan inovasi atau strategi efisiensi yang tepat dari para pelaku UMKM.
“Memang terasa dengan perubahan atau kenaikan harga plastik ini, tapi kita melakukan pendampingan UKM. Antara lain dengan inovasi terhadap kemasan, karena pasti akan berpengaruh dengan harga biaya produksi,” jelasnya.
Sebagai langkah konkret, Pemkot Surabaya juga mendorong pelaku UMKM untuk mulai beralih ke alternatif kemasan selain plastik yang dinilai lebih efisien dan ramah lingkungan. Upaya ini tidak hanya bertujuan untuk menekan biaya produksi, tetapi juga sebagai bagian dari langkah jangka panjang dalam mendukung penggunaan bahan yang lebih berkelanjutan.
“Jadi kita mencoba mendampingi untuk inovasi kemasan di UKM, tidak lagi dengan plastik, tapi dengan bahan-bahan lain yang bisa menekan biaya produksinya,” imbuhnya.
Meskipun demikian, Mia menyebutkan bahwa hingga saat ini keluhan dari pelaku usaha terkait kenaikan harga plastik masih belum terlalu banyak. Namun, pemerintah tetap melakukan langkah-langkah antisipatif sebagai bentuk kesiapsiagaan dalam menghadapi kemungkinan perubahan kondisi pasar ke depan yang tidak dapat diprediksi.
“Sebenarnya untuk keluhan belum terlalu banyak, tapi kita tetap antisipasi karena kita kan tidak tahu perkembangan ke depan seperti apa,” katanya.
Selain mendorong penggunaan alternatif kemasan, Dinkopumdag Surabaya juga menilai bahwa penyesuaian pola distribusi dan sistem penjualan dapat menjadi solusi jangka pendek yang efektif.
Salah satu strategi yang dapat diterapkan adalah menjual produk dalam jumlah lebih besar atau dalam kemasan besar, sehingga dapat mengurangi ketergantungan pada kemasan plastik berukuran kecil.
“Jadi kalau terkait dengan perdagangan pada umumnya ya mungkin kuantitas jual itu tidak lagi dikemas kecil-kecil. Tapi yang memang paling signifikan itu perubahan kemasan yang harus mulai dilakukan,” jelas Mia.
Dari sisi pengawasan, Mia menuturkan bahwa pihaknya telah melakukan pengecekan langsung di sejumlah toko dan pasar untuk memastikan kondisi di lapangan. Hasil pemantauan tersebut menunjukkan bahwa memang terjadi kenaikan harga plastik, sehingga diperlukan langkah pengendalian yang berkelanjutan.
“Kalau kemarin ke beberapa toko memang ada kenaikan harga. Jadi teman-teman di lapangan juga secara rutin melakukan monitoring harga di pasar,” ungkapnya.
Untuk membantu menekan harga, Pemkot Surabaya juga menjalin komunikasi dan koordinasi dengan para distributor. Tujuannya adalah untuk mempersingkat rantai distribusi sehingga harga yang diterima oleh pelaku usaha menjadi lebih kompetitif dan tidak terlalu terbebani oleh biaya tambahan dari rantai pasok yang panjang.
“Kita komunikasi dengan distributor, kemudian kita hubungkan dengan para pedagang atau UMKM kita. Jadi lebih memutus rantai pasoknya supaya gak terlalu panjang,” katanya.
Ke depan, Mia memastikan bahwa Pemkot Surabaya akan terus berkomitmen memberikan pendampingan kepada pelaku UMKM agar mampu bertahan di tengah tekanan kenaikan biaya produksi.
Pendampingan ini diharapkan tidak hanya menjaga keberlangsungan usaha, tetapi juga memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga serta stabilitas ekonomi lokal dapat dipertahankan.
“Kita berusaha terus mendampingi, terutama di UMKM, supaya tetap bisa jalan, produksi bisa terus, harga juga tidak naik, supaya daya beli masyarakat juga tidak menurun. Kemudian pendapatan mereka juga tetap stabil,” pungkasnya.
Langkah-langkah yang dilakukan Pemkot Surabaya ini menunjukkan upaya proaktif dalam menjaga keseimbangan antara kepentingan pelaku usaha dan masyarakat.
Melalui kombinasi pengawasan, inovasi, serta kolaborasi dengan berbagai pihak, diharapkan dampak kenaikan harga plastik dapat diminimalkan, sehingga stabilitas ekonomi daerah tetap terjaga secara berkelanjutan.
Sumber: Surabaya.go.id
