SMARTSURABAYA.COM, SURABAYA – Eskalasi politik organisasi menjelang pelaksanaan Muktamar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kian menghangat seiring munculnya figur-figur strategis yang menyatakan kesiapannya untuk memimpin gerbong organisasi keagamaan terbesar di Indonesia tersebut. Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, KH Abdussalam Shohib, secara terbuka mengklaim telah mengonsolidasikan basis massa yang kuat di tingkat akar rumput setelah melakukan safari komunikasi ke berbagai daerah. Langkah konsolidasi ini dimaksudkan untuk memetakan kekuatan dukungan sekaligus menyerap peta aspirasi struktural dari jajaran pengurus di tingkat wilayah maupun cabang.
Keseriusan tokoh yang akrab disapa Gus Salam ini ditandai dengan deklarasi resminya untuk maju berkompetisi memperebutkan kursi Ketua Umum PBNU pada forum tertinggi muktamar mendatang. Manuver politik organisasi ini diakui bukan atas dasar ambisi pribadi, melainkan mandat dan instruksi langsung dari sejumlah kiai sepuh yang menghendaki adanya pembaruan tata kelola khidmat jam’iyah secara nasional. “Dari apa yang kami dengar dari teman-teman di PC maupun PW, bahwa semangat perubahan terhadap PBNU sangat besar,” ujar Gus Salam saat memberikan keterangan pers mengenai hasil safari konsolidasinya.
Gerakan keliling ke berbagai wilayah administratif Nahdlatul Ulama diproyeksikan akan terus masif dilakukan guna mempertebal ceruk dukungan suara menjelang pembukaan forum muktamar. Pertemuan tatap muka dengan para pengurus wilayah (PWNU) dan pengurus cabang (PCNU) tersebut dimanfaatkan sebagai ruang dialog dua arah untuk membedah problem organisasi di tingkat lokal. Pendekatan persuasif ini mendapat sambutan yang cukup positif di berbagai daerah, yang ditandai dengan kesamaan visi untuk membawa PBNU menjadi institusi yang lebih mandiri, inklusif, dan bebas dari intervensi eksternal.
Modal utama yang diusung oleh cucu pendiri NU ini dalam bursa pencalonan adalah rekam jejak pengabdian yang panjang dan berjenjang di jalur struktural organisasi selama lebih dari dua dekade. Kiprah kepemimpinannya tercatat dimulai sejak menjadi pengurus lembaga bahtsul masail di tingkat kota, naik ke jajaran Syuriyah cabang, hingga dipercaya menduduki posisi strategis sebagai Katib PBNU pada masa kepemimpinan nasional sebelumnya. Pengalaman matang tersebut disempurnakan dengan jabatan terakhirnya sebagai Wakil Ketua PWNU Jawa Timur, yang menjadikannya paham betul akan anatomi konflik dan kebutuhan riil pengurus di tingkat daerah.
Melalui kematangan strategi dan kuatnya dorongan arus bawah, kubu Gus Salam optimistis dapat menghadirkan persaingan yang sehat dan demokratis dalam bursa pemilihan ketum mendatang. Ruang sharing pengalaman yang terus dibuka secara intensif diyakini ampuh untuk menyatukan persepsi mengenai pentingnya mengembalikan khittah organisasi pada jalur perjuangan umat. Sinergi yang kokoh antara tokoh kultural dan struktural tingkat bawah ini diharapkan mampu melahirkan kepemimpinan baru yang berintegritas tinggi serta mampu menjawab tantangan zaman yang kian dinamis.
Sumber: Surya.co.id (Tribun Network)
