SMARTSURABAYA.COM, SURABAYA – Dunia olahraga internasional dikejutkan oleh performa gemilang seorang atlet panjat tebing muda berbakat berbaju almamater perguruan tinggi Surabaya yang sukses menorehkan tinta emas di panggung dunia. Putra Tri Ramadani, atlet panjat tebing andalan Indonesia sekaligus mahasiswa aktif Universitas Muhammadiyah Surabaya, berhasil mengukir sejarah monumental dalam kompetisi panjat dinding global. Pemuda tangguh ini keluar sebagai juara pertama dalam kategori lead putra pada ajang World Climbing Series yang diselenggarakan di Praha, Republik Ceko. Keberhasilan ini menempatkan dirinya sebagai pemanjat tebing tanah air pertama yang mampu merengkuh podium tertinggi sepanjang sejarah partisipasi Indonesia pada nomor nomor kesulitan tersebut.
Dalam partai final yang berlangsung menegangkan di benua Eropa, sang mahasiswa prodi manajemen ini memperlihatkan dominasi mental dan kekuatan fisik yang luar biasa di hadapan para pemanjat elite dunia. Putra sukses mencatatkan skor poin tertinggi yang gagal disamai oleh para pesaing terberatnya dari negara-negara tangguh Asia dan Eropa. Ketangguhan pemuda asal Jawa Timur ini terbukti mampu mengungguli catatan skor atlet andalan Jepang, Neo Suzuki, yang harus puas membawa pulang medali perak, serta legenda panjat tebing dunia Jakob Schubert asal Austria di posisi ketiga. Keberhasilan menaklukkan dinding vertikal di Ceko ini seketika menaikkan posisi tawar Indonesia dalam peta kekuatan olahraga ekstrem global yang selama ini didominasi oleh negara-negara barat.
Pencapaian spektakuler di level internasional ini terasa sangat kontras jika menilik latar belakang perjuangan masa kecil sang atlet yang tumbuh dari keterbatasan ekonomi di daerah. Pemilik akun Instagram @srondeng_26 ini mengawali ketertarikannya pada dunia panjat tebing sejak usia sekolah dasar di Kediri dengan memanfaatkan fasilitas latihan yang jauh dari kata standar kelayakan formal. Ia mengenakan sepatu panjat seadanya dan berlatih menggunakan papan triplek tua berangka besi keropos serta jumlah pijakan genggaman tangan yang sangat terbatas di bawah naungan pengurus cabang daerah. “Saya dulu memulai manjat dengan media yang kurang memadai,” kenang alumni SMAN Olahraga Sidoarjo tersebut, yang membuktikan bahwa keterbatasan fasilitas prasarana lokal bukanlah penghalang untuk melahirkan talenta kelas dunia.
Faktor keteguhan mental dan kedisiplinan yang tinggi disinyalir menjadi kunci utama di balik konsistensi performa sang atlet dalam membagi waktu antara bangku perkuliahan dan pusat pelatihan nasional. Lahir sebagai putra dari seorang ibu penjual sayur keliling dan ayah buruh toko material bangunan, nilai-nilai kerja keras dan kesederhanaan telah tertanam kuat dalam karakter pribadinya sejak dini. Dukungan penuh serta doa restu spiritual dari kedua orang tua di kampung halaman diakui menjadi bahan bakar motivasi terbesar untuk tetap rendah hati meski kini namanya telah sejajar dengan jajaran atlet top dunia. “Keluarga saya, ibu saya berjualan sayuran setiap pagi dan ayah saya bekerja di toko material bangunan,” tutur pemuda yang dikenal oleh para pelatih pertamanya sebagai sosok yang taat dan tidak sombong.
Pasca-meraih kesuksesan besar di benua Eropa, pilar muda FPTI ini sama sekali tidak berniat mengendurkan intensitas porsi latihannya di Surabaya. Target capaian prestasi berikutnya telah dipatok pada level kompetisi yang jauh lebih prestisius, yakni membidik raihan medali pada ajang Asian Games serta persiapan menuju kualifikasi Olimpiade Musim Panas mendatang. Ia pun berpesan kepada para atlet yunior di daerah agar tetap konsisten mematuhi instruksi tim pelatih serta percaya pada proses panjang pembinaan yang sedang dijalani. “Giatlah berlatih dan konsisten karena dengan begitu prestasi akan mengikuti. Yakin sama diri sendiri, ikuti terus program pelatihan dan masukan pelatih adalah kunci mengatasi tantangan,” pungkasnya penuh optimisme menatap masa depan karir olahraganya.
Sumber: Surya.co.id (Tribun Network) / Kompas.com
