SMARTSURABAYA.COM – Ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menghancurkan Iran dalam waktu singkat memicu reaksi dari berbagai pihak internasional. Sejumlah negara mulai merespons kemungkinan terburuk jika Iran melakukan serangan balasan terhadap Amerika Serikat.
Perkembangan terbaru, Jembatan King Fahd Causeway yang menghubungkan Arab Saudi dan Bahrain ditutup lebih awal pada Selasa (7/4/2026). Otoritas King Fahd Causeway mengumumkan kebijakan tersebut melalui unggahan di platform X.
Dalam pernyataannya, disebutkan bahwa arus kendaraan “dihentikan sebagai tindakan pencegahan” setelah adanya serangan Iran yang menargetkan Provinsi Timur Arab Saudi. Jembatan sepanjang 25 kilometer itu merupakan satu-satunya jalur darat yang menghubungkan Bahrain yang menjadi markas Armada ke-5 Angkatan Laut AS dengan Semenanjung Arab.
Penutupan ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan ultimatum kepada Iran agar membuka kembali Selat Hormuz.
Dalam konferensi pers di Gedung Putih pada Senin (6/4/2026), Trump menyampaikan ancaman keras bahwa Iran akan dihancurkan dalam waktu singkat jika tidak memenuhi tuntutan Washington. Ia juga menolak anggapan bahwa langkah tersebut termasuk kejahatan perang.
“Seluruh negara itu bisa dilenyapkan dalam satu malam, dan itu bisa jadi besok malam,” ujar Trump, dikutip AFP.
Trump menegaskan bahwa Iran harus menyepakati perjanjian yang menjamin “kebebasan lalu lintas minyak” di Selat Hormuz. Jika tidak, ia memperingatkan akan terjadi “penghancuran total, dan itu akan terjadi dalam periode empat jam.”
“Setiap jembatan di Iran akan dihancurkan pada pukul 12 malam besok, di mana setiap pembangkit listrik di Iran akan berhenti beroperasi, terbakar, meledak, dan tidak akan pernah bisa digunakan lagi,” lanjutnya.
Selain itu, Trump juga mempertimbangkan kebijakan tarif terhadap kapal pengangkut minyak yang melintasi Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Pernyataan keras tersebut muncul hanya beberapa jam setelah ia menyebut proposal gencatan senjata dengan Iran sebagai “langkah yang sangat signifikan.”
“Itu belum cukup baik, tetapi itu adalah langkah yang sangat signifikan,” kata Trump kepada wartawan.
Namun, media pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran menolak usulan gencatan senjata tersebut, yang mereka sebut sebagai “proposal Amerika.”
Di tengah situasi yang memanas selama 38 hari terakhir, berbagai negara kini berupaya mencari jalan diplomatik untuk meredakan konflik. Menanggapi ultimatum Trump, pakar hubungan internasional dari Universitas Padjadjaran, Dina Sulaeman, menilai bahwa tanpa ultimatum pun Amerika Serikat dan Israel tetap melanjutkan serangan terhadap Iran hingga saat ini.
Menurut Dina, sasaran serangan tersebut meliputi infrastruktur sipil, permukiman warga, hingga kilang minyak. Terkait kemungkinan eskalasi yang lebih besar, ia menilai Amerika Serikat juga mempertimbangkan kapasitas militernya yang mulai terbatas, sementara Iran telah memberikan ancaman balasan yang signifikan.
“Sebenarnya yang penting respon dari Iran ya. Ketika Iran merespons kalau diserang akan membalas dengan jauh lebih keras,” kata Dina dikutip dari Kompas TV pada Selasa (7/4/2026).
Pernyataan tersebut diperkuat oleh juru bicara IRGC yang menyebut bahwa kawasan akan menjadi neraka jika Iran diserang.
“Itu kalimat terakhirnya ya, kawasan akan menjadi neraka. Artinya ini ada tarik ulur nih, siapa yang lebih kuat, siapa yang lebih berani,” katanya.
Dina menambahkan bahwa Amerika Serikat tentu akan mempertimbangkan risiko tersebut sebelum mengambil langkah lebih jauh. “Sekarang saja sudah balasannya sudah luar biasa, terutama ke Israel juga jauh lebih masif,” katanya.
Atas dasar itu, Dina menilai ancaman Trump untuk melakukan serangan besar-besaran lebih sebagai bentuk tekanan atau gertakan politik. “Kalau eskalasi besar-besaran saya pikir gertakan. Tapi kalau menyerang ya masih berlanjut sampai hari ini,” tegasnya.
Terkait ancaman terhadap pembangkit listrik Iran, Dina menyebut bahwa negara tersebut telah mengantisipasi kemungkinan tersebut dengan mendistribusikan fasilitas energi di berbagai lokasi.
“Karena kalau dari sisi pembangkit listrik itu juga tersebar, jadi tidak hanya terpusat di satu titik saja. Sehingga kalau betul-betul Iran diserang pembangkit listriknya, situasi secara keseluruhan di Iran masih bisa teratasi karena pembangkit listriknya ada di banyak titik,” katanya.
Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa serangan semacam itu berisiko memicu balasan yang setara atau bahkan lebih besar dari Iran.
“Berarti kan yang terancam negara-negara di kawasan ya, pembangkit listrik di Teluk juga terancam akan diserang juga sebagai serangan balasan oleh Iran. Nah, sekarang Amerika Serikat tentu, dan saya meyakini bahwa di balik layar back channel diplomasi itu berjalan ya. Karena negara-negara itu pasti ketakutan kalau itu terjadi. Sekarang saja ekonomi sudah sangat sulit, apalagi kalau harus menghadapi pembangkit listrik yang hancur jika mendapatkan serangan balasan dari Iran,” tukasnya.
Secara keseluruhan, situasi ini menunjukkan ketegangan yang masih tinggi dengan potensi eskalasi yang tetap terbuka, meskipun upaya diplomasi di balik layar diyakini terus berlangsung untuk mencegah konflik yang lebih luas.
Sumber: SURYA.co.id
