SMARTSURABAYA.COM – Masyarakat diminta untuk tidak menganggap remeh gejala batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu. Kondisi tersebut perlu diwaspadai karena dapat menjadi indikasi awal penyakit tuberkulosis (TBC), yakni penyakit menular yang tingkat bahayanya dinilai sebanding dengan COVID-19.
Oleh sebab itu, kesadaran untuk mengenali gejala sejak dini menjadi hal yang sangat penting guna mencegah penularan yang lebih luas di lingkungan sekitar.
Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) sekaligus Direktur Zero TB Yogyakarta, dr. Rina Triasih, menegaskan bahwa TBC hingga kini masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.
Tingginya angka kematian akibat penyakit ini diharapkan mampu meningkatkan kewaspadaan masyarakat agar tidak lagi mengabaikan gejala yang muncul. Hal ini menunjukkan bahwa TBC masih menjadi masalah kesehatan publik yang memerlukan perhatian besar.
“Ini sama bahayanya dengan COVID. Namun, karena TBC sudah ada sejak lama dan menyebabkan korban jiwa secara perlahan, penyakit ini kerap dianggap kurang berbahaya,” ujarnya dikutip dari ugm.ac.id, Kamis (9/4/2026).
Menurut Rina, tingginya jumlah kasus serta angka kematian akibat TBC menandakan bahwa penyakit ini masih menjadi persoalan kesehatan yang harus ditangani secara serius.
Meskipun berbagai upaya eliminasi terus dilakukan dengan target tahun 2030, peningkatan jumlah kasus juga bisa mencerminkan semakin baiknya upaya deteksi terhadap kasus yang sebelumnya tidak teridentifikasi.
Dengan kata lain, peningkatan ini tidak sepenuhnya menunjukkan lonjakan penularan, tetapi juga keberhasilan dalam menemukan kasus tersembunyi. Ia menjelaskan bahwa gejala TBC tidak muncul secara langsung setelah seseorang terinfeksi, melainkan berkembang dalam rentang waktu sekitar 4 hingga 12 minggu.
Proses inkubasi yang relatif lama ini menyebabkan banyak penderita tidak menyadari kondisi mereka sejak awal. Akibatnya, diagnosis sering kali terlambat dilakukan, sehingga meningkatkan risiko penularan kepada orang lain di sekitarnya serta memperburuk kondisi pasien itu sendiri.
“Kondisi inilah yang kemudian memungkinkan kasus tidak terdeteksi sejak dini, sehingga meningkatkan risiko keterlambatan penanganan dan penularan di masyarakat,” terangnya.
Selain itu, pengendalian TBC di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan yang cukup kompleks. Tantangan tersebut meliputi ketimpangan akses terhadap layanan kesehatan, serta adanya stigma negatif di masyarakat terhadap penderita TBC.
Tidak sedikit individu yang enggan memeriksakan diri karena khawatir akan diagnosis yang diterima atau takut berdampak pada pekerjaan dan kehidupan sosial mereka. Padahal, sikap tersebut justru memperburuk keadaan.
“Padahal, keterlambatan diagnosis justru meningkatkan risiko penularan dan memperburuk kondisi pasien,” imbuhnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Rina menekankan pentingnya penerapan pendekatan yang komprehensif melalui strategi search, treat, and prevent. Strategi ini mencakup upaya penemuan kasus secara aktif (active case finding/ACF), pemberian pengobatan yang tepat hingga tuntas, serta terapi pencegahan bagi kelompok yang memiliki risiko tinggi.
Pendekatan ini dinilai efektif apabila dilaksanakan secara terintegrasi dan berkelanjutan. Ia juga menegaskan bahwa keberhasilan pengendalian TBC tidak dapat dicapai hanya oleh sektor kesehatan saja.
Diperlukan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, pihak swasta, serta partisipasi aktif masyarakat. Sinergi ini sangat penting agar upaya pengendalian TBC dapat berjalan secara optimal dan memberikan dampak yang signifikan dalam menekan angka kasus.
“Upaya ini tidak akan tercapai jika hanya dilakukan oleh sektor kesehatan saja. Diperlukan dukungan dan keterlibatan berbagai sektor, termasuk pemerintah, swasta, dan masyarakat, agar pengendalian TBC dapat berjalan secara optimal,” pesannya.
Rina juga memberikan apresiasi terhadap berbagai inovasi yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan, seperti pemanfaatan rontgen portable untuk menjangkau masyarakat di daerah yang sulit diakses.
Selain itu, terdapat pula rencana pengembangan layanan skrining terpadu melalui konsep One Stop Service (OSS) yang terintegrasi dengan program Cek Kesehatan Gratis. Inovasi-inovasi ini dinilai mampu memperluas jangkauan deteksi dini TBC.
“Saya kira ini inovasi yang sangat bagus dalam menjangkau kasus-kasus TBC yang sebelumnya tidak terdeteksi,” ungkapnya.
Berbagai upaya tersebut diharapkan dapat mempercepat proses deteksi serta penanganan kasus TBC di tengah masyarakat. Sebagai penutup, Rina kembali menekankan pentingnya peran aktif masyarakat dalam mendukung program eliminasi TBC.
Ia mengingatkan agar setiap individu tidak mengabaikan gejala batuk yang berkepanjangan dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Selain itu, pemahaman bahwa TBC merupakan penyakit yang dapat disembuhkan dan bukan penyakit keturunan perlu terus disosialisasikan.
Edukasi ini penting untuk mengurangi stigma negatif serta meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan. Dengan demikian, upaya eliminasi TBC di Indonesia dapat berjalan lebih efektif dan mencapai target yang telah ditetapkan.
Tuberkulosis (TBC) sendiri merupakan penyakit kronis yang dapat menular dari satu individu ke individu lain di sekitarnya. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis yang menyebar melalui udara.
Penularan terjadi melalui percikan droplet yang keluar saat seseorang berbicara, batuk, atau bersin, sehingga sangat mudah menyebar di lingkungan dengan kontak dekat.
Pada umumnya, TBC menyerang organ paru-paru. Namun demikian, bakteri ini juga dapat menyebar ke organ lain melalui aliran darah, seperti selaput otak, kulit, tulang, serta kelenjar getah bening. Kondisi ini dikenal sebagai TBC ekstra paru, yang juga memerlukan penanganan serius karena dapat menimbulkan komplikasi yang berbahaya.
Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami berbagai gejala TBC. Gejala tersebut terbagi menjadi gejala utama dan gejala tambahan yang perlu diwaspadai, di antaranya sebagai berikut:
1. Batuk terus-menerus
Batuk merupakan gejala utama TBC, terutama jika terjadi secara berkepanjangan. Batuk ini bisa disertai dahak, bahkan dalam kondisi tertentu dapat disertai darah. Kondisi ini terjadi akibat infeksi yang mengganggu sistem pernapasan.
2. Penurunan nafsu makan
Penderita TBC sering mengalami penurunan nafsu makan. Batuk yang terus-menerus juga dapat membuat proses menelan menjadi tidak nyaman. Selain itu, efek samping pengobatan TBC juga dapat memengaruhi sistem pencernaan.
3. Penurunan berat badan
Kurangnya asupan nutrisi akibat nafsu makan yang menurun menyebabkan berat badan penderita TBC dapat turun secara drastis dalam waktu relatif singkat.
4. Demam
Demam merupakan respons alami tubuh terhadap infeksi. Pada penderita TBC, demam sering muncul di tahap awal dan dapat hilang-timbul. Kondisi ini perlu diwaspadai apabila berlangsung lebih dari dua minggu.
5. Berkeringat di malam hari
Keringat berlebih di malam hari tanpa aktivitas fisik merupakan salah satu gejala khas TBC. Kondisi ini biasanya disertai tubuh lemas serta nyeri pada otot dan sendi.
6. Nyeri saat bernapas atau batuk
Infeksi pada paru-paru menyebabkan peradangan dan peningkatan produksi lendir. Hal ini mengakibatkan penumpukan yang menghambat aliran udara, sehingga menimbulkan rasa nyeri saat bernapas atau batuk.
7. Mudah lelah
Daya tahan tubuh penderita TBC umumnya menurun, sehingga tubuh menjadi lebih cepat lelah dan lemas. Namun, dengan pengobatan yang teratur dan disiplin, kondisi ini dapat pulih dan pasien dapat kembali beraktivitas seperti biasa.
Kewaspadaan dan kepedulian terhadap gejala TBC harus terus ditingkatkan oleh seluruh lapisan masyarakat. Deteksi dini, pemeriksaan tepat waktu, serta kepatuhan dalam menjalani pengobatan menjadi kunci utama dalam memutus rantai penularan.
Dengan dukungan bersama antara masyarakat, tenaga kesehatan, dan berbagai pihak terkait, upaya eliminasi TBC di Indonesia bukanlah hal yang mustahil untuk dicapai.
Sumber: Tribunkesehatan
