SMARTSURABAYA.COM – Kebijakan work from home (WFH) kembali menjadi perhatian publik dalam beberapa waktu terakhir. Pemerintah menetapkan WFH bagi aparatur sipil negara sebagai salah satu strategi untuk menghemat energi, terutama di tengah meningkatnya harga minyak global yang berdampak pada berbagai sektor.
Di balik perdebatan mengenai efektivitas dan implementasinya, WFH ternyata menyimpan sejumlah manfaat, khususnya dari sisi kesehatan, baik kesehatan fisik maupun mental yang sering kali tidak disadari secara langsung oleh masyarakat luas.
Dokter sekaligus peneliti Global Health Security dan pakar epidemiologi, Dr. Dicky Budiman, B.Med., MD., MScPH., Ph.D., menjelaskan bahwa manfaat WFH memang terbukti ada dan didukung oleh berbagai literatur ilmiah. Namun demikian, manfaat tersebut tidak bersifat absolut atau berlaku secara universal.
Efektivitasnya sangat bergantung pada konteks penerapan kebijakan, termasuk bagaimana desain kebijakan itu disusun serta kondisi individu yang menjalani sistem kerja dari rumah.
“Jadi bicara WFH tentu kalau manfaat dari sisi kesehatan ada ya, yang tentu ini didukung oleh literatur, ada menunjukkan manfaat namun bersifat kontekstual artinya bergantung pada desain kebijakan dan kondisi dari si individu yang mengalami WFH ini,” ujarnya.
Penegasan ini menunjukkan bahwa pendekatan yang tidak seragam menjadi kunci dalam memahami dampak WFH. Salah satu manfaat yang paling jelas terlihat dari penerapan WFH adalah kemampuannya dalam menekan risiko penyebaran penyakit menular.
Hal ini terbukti secara nyata selama pandemi COVID-19, ketika pembatasan mobilitas masyarakat mengurangi interaksi fisik secara signifikan. Dengan berkurangnya kontak langsung antarindividu, potensi penularan penyakit juga ikut menurun.
“Artinya kalau bicara manfaat ada potensi pengurangan risiko penyakit menular karena WFH seperti yang kita lihat di masa pandemi itu terbukti efektif menurunkan transmisi atau penularan penyakit saluran pernapasan ya seperti COVID-19, influenza misalnya ya,” jelas Dicky pada Tribunnews, Minggu (12/4/2025).
Fenomena ini memperlihatkan bahwa WFH dapat menjadi instrumen penting dalam pengendalian wabah. Selain itu, penurunan mobilitas juga berdampak langsung pada berkurangnya tingkat interaksi sosial antarindividu.
Dalam kajian epidemiologi, kondisi ini dikenal sebagai penurunan contact rate, yaitu frekuensi kontak yang berperan besar dalam penyebaran penyakit menular. Semakin rendah tingkat interaksi, semakin kecil pula peluang penularan penyakit. Dampak positif ini tidak hanya terbatas pada aspek fisik, tetapi juga meluas ke kesehatan mental.
WFH memberikan fleksibilitas waktu yang lebih besar, sehingga individu dapat mengatur aktivitas sehari-hari dengan lebih leluasa dan sesuai kebutuhan pribadi. Ketiadaan kewajiban untuk menghadapi kemacetan atau perjalanan panjang menuju tempat kerja juga menjadi faktor signifikan dalam mengurangi tekanan psikologis.
Dengan berkurangnya stres akibat perjalanan, individu memiliki lebih banyak energi untuk fokus pada pekerjaan maupun kehidupan pribadi. Dicky menyebutkan bahwa kondisi ini berpotensi menurunkan tingkat stres, bahkan mampu mengurangi burnout ringan hingga sedang.
Selain itu, WFH juga meningkatkan rasa kontrol terhadap pekerjaan (perceived autonomy), yang pada akhirnya membantu menciptakan keseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi (work-life balance) secara lebih optimal.
Namun demikian, manfaat tersebut tidak selalu dirasakan oleh semua orang secara merata. Faktor individu seperti kondisi rumah, beban kerja, hingga kemampuan manajemen waktu sangat memengaruhi hasil yang diperoleh dari WFH. Oleh karena itu, penerapan WFH tidak bisa disamaratakan tanpa mempertimbangkan variasi kondisi tersebut.
Selain aspek kesehatan mental dan fisik, terdapat pula manfaat lain yang sering terabaikan, yaitu berkurangnya paparan terhadap polusi udara akibat menurunnya aktivitas commuting. Dengan berkurangnya perjalanan harian, paparan terhadap polutan berbahaya seperti PM2.5 dan NO2 juga ikut menurun.
Hal ini berdampak langsung pada peningkatan kualitas kesehatan, terutama dalam menurunkan risiko penyakit kardiovaskular serta mengurangi kekambuhan penyakit pernapasan seperti asma. Tidak hanya itu, dampak positif juga dirasakan pada skala lingkungan yang lebih luas.
Penurunan emisi karbon dari sektor transportasi berkontribusi pada perbaikan kualitas udara dan mendukung konsep kesehatan lingkungan atau planetary health. Fenomena ini sempat terlihat secara nyata selama masa pandemi, ketika kualitas udara di berbagai kota besar dunia mengalami perbaikan signifikan.
WFH juga memberikan keuntungan bagi individu yang memiliki penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi. Dengan lebih banyak waktu yang dihabiskan di rumah, mereka memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mengatur pola makan secara sehat, mengonsumsi obat secara teratur, serta menjaga gaya hidup yang lebih terkontrol.
Selain itu, tingkat ketidakhadiran kerja (absenteeism) cenderung menurun karena pekerja tetap dapat menjalankan tugas meskipun dalam kondisi kesehatan yang tidak sepenuhnya optimal. Namun, kondisi ini juga dapat menjadi “pedang bermata dua” karena ada kemungkinan individu tetap bekerja meskipun seharusnya beristirahat.
Dalam konteks global, WFH kini telah menjadi bagian dari transformasi pola kerja modern yang semakin fleksibel. Banyak negara tidak lagi menerapkan sistem kerja sepenuhnya dari rumah, melainkan mengadopsi model kerja hybrid yang mengombinasikan kerja dari rumah dan dari kantor.
Tren ini sebenarnya sudah mulai berkembang sebelum pandemi dan semakin menguat setelahnya. Negara-negara seperti Belanda, Inggris, dan Australia bahkan telah memiliki regulasi khusus terkait fleksibilitas kerja.
Sementara itu, di negara seperti Amerika Serikat dan Jepang, WFH lebih sering diterapkan dalam bentuk hybrid, misalnya dengan pembagian 2–3 hari kerja dari rumah. Dicky menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada negara yang menerapkan WFH penuh secara universal sebagai standar utama.
“Dari tren kebijakan global ini sebetulnya tidak ada negara yang mempertahankan WFA penuh secara universal itu. Nggak ada ya atau belum ada ya. Yang saat ini dirujuk, diacu kecenderungannya dan dianggap model terbaik adalah hybrid adaptive model,” jelasnya.
Hal ini menunjukkan bahwa fleksibilitas menjadi kunci dalam menentukan model kerja yang paling efektif. Meskipun memiliki berbagai manfaat, penerapan WFH tetap memerlukan perencanaan yang matang dan tidak dapat dilakukan secara sembarangan.
Kebijakan ini harus dirancang dengan mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari jenis pekerjaan, kondisi individu, hingga kesiapan infrastruktur pendukung. Tanpa desain kebijakan yang tepat, manfaat yang diharapkan justru berpotensi tidak tercapai secara optimal.
Oleh karena itu, WFH sebaiknya dipandang sebagai bagian dari strategi kesehatan masyarakat yang berbasis konteks dan kebutuhan. Dengan pendekatan yang tepat, WFH tidak hanya dapat meningkatkan produktivitas kerja, tetapi juga berkontribusi secara signifikan dalam menjaga kesehatan masyarakat secara menyeluruh.
Integrasi antara kebijakan kerja dan aspek kesehatan menjadi hal yang semakin relevan di era modern, sehingga WFH dapat menjadi solusi yang adaptif, berkelanjutan, dan memberikan manfaat jangka panjang bagi individu maupun lingkungan.
Sumber: Tribunkesehatan
