SMARTSURABAYA.COM – Berbeda dengan sang kakak, Nikita Willy yang dikenal lebih tenang dalam menghadapi berbagai situasi, Winona Willy justru mengakui bahwa dirinya termasuk tipe ibu yang mudah panik, terutama ketika anak mengalami gangguan kesehatan.
Meski demikian, di balik rasa cemas tersebut, Winona perlahan belajar menjadi lebih peka dan responsif terhadap kondisi kedua buah hatinya. Ia juga menyadari bahwa kekhawatiran seperti itu merupakan hal yang sangat wajar dialami oleh para orang tua, khususnya ibu dengan anak yang masih kecil.
“Kalau boleh jujur, kakak aku itu lebih tenang menghadapi masalah dibanding aku. Aku masih sering panik, sama kayak ibu-ibu lainnya,” kata Winona saat ditemui di Jakarta, Kamis (3/4).
Ia kemudian menjelaskan bahwa kedua anaknya memiliki riwayat alergi, yang membuat sistem pencernaan mereka cenderung lebih sensitif dibandingkan anak pada umumnya. Kondisi tersebut menyebabkan perubahan pada feses dapat terjadi secara cepat dan tidak menentu, seperti tiba-tiba menjadi keras atau justru lembek dalam waktu singkat.
Sebagai ibu yang memiliki tingkat kekhawatiran cukup tinggi, perubahan pada kondisi feses tersebut kerap membuat Winona merasa panik, terlebih jika berdampak langsung pada kesehatan anak.
Salah satu pengalaman yang cukup membuatnya khawatir adalah ketika anaknya mengalami muntah akibat kesulitan buang air besar karena tekstur feses yang terlalu keras. Situasi tersebut menjadi titik awal bagi Winona untuk lebih serius memahami kondisi kesehatan pencernaan anak-anaknya.
Pengalaman itu mendorongnya untuk mencari berbagai cara agar dapat memantau kondisi anak secara lebih akurat dan tidak hanya mengandalkan perasaan cemas semata. Ia mulai memanfaatkan teknologi sebagai alat bantu dalam memahami kesehatan pencernaan anak, sehingga dapat mengambil langkah yang lebih tepat ketika terjadi perubahan kondisi.
Lalu, ia mulai memanfaatkan teknologi seperti AI Poop Tracker dari Bebeclub untuk memantau kesehatan pencernaan si kecil.
“Dengan adanya AI tracker ini, aku jadi tahu kalau ternyata bentuk pup itu sangat berpengaruh dengan tumbuh kembang anak,” jelasnya.
Teknologi tersebut memberikan gambaran yang lebih jelas bagi Winona dalam membaca kondisi kesehatan anak melalui indikator yang sebelumnya mungkin sering diabaikan.
“Kalau pupnya lagi bagus, mood-nya happy banget. Makannya jadi oke, tidurnya juga nyaman. Jadi benar good poop, good mood, good growth,” lanjut perempuan berusia 27 tahun ini.
Seiring berjalannya waktu, aktivitas memantau kondisi feses anak pun menjadi bagian dari rutinitas hariannya. Bagi Winona, hal ini bukan sesuatu yang tabu atau harus dihindari, melainkan bentuk perhatian dan tanggung jawab orang tua dalam memastikan kesehatan anak tetap terjaga dengan baik.
Dalam upaya menjaga kesehatan anak secara menyeluruh, Winona juga sangat memperhatikan pola makan harian. Ia memastikan bahwa kebutuhan nutrisi anak terpenuhi secara seimbang, dengan memberikan asupan protein yang cukup, serat dalam jumlah yang tepat, serta tambahan probiotik dan vitamin untuk menunjang kesehatan pencernaan.
“Anak-anak itu butuh protein yang cukup, serat juga tapi jangan berlebihan. Probiotik dan vitamin juga aku tambahkan,” jelasnya, menekankan pentingnya keseimbangan dalam pola makan anak.
Pada kesempatan yang sama, Medical & Scientific Affairs Director Danone Indonesia, Ray Wagiu Basrowi, menjelaskan bahwa aplikasi berbasis kecerdasan buatan tersebut dirancang untuk membantu para orang tua dalam memantau kesehatan pencernaan anak dengan cara yang praktis dan efisien.
Sistem kerjanya cukup sederhana, yaitu dengan menganalisis foto feses yang diambil melalui ponsel, dengan tingkat akurasi yang diklaim mencapai lebih dari 95 persen.
Ia juga menambahkan bahwa teknologi ini dikembangkan berdasarkan riset ilmiah yang telah dipresentasikan dalam forum internasional serta dipublikasikan di sejumlah jurnal bereputasi, seperti European Society for Paediatric Gastroenterology Hepatology and Nutrition, Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition, dan Acta Paediatrica.
“Penggunaannya di Indonesia juga telah melalui validasi dokter anak konsultan gastroenterologi,” tutur dia.
Secara keseluruhan, pengalaman Winona menunjukkan bahwa kecemasan orang tua dapat diarahkan menjadi bentuk kepedulian yang lebih terukur melalui pemanfaatan teknologi dan pengetahuan yang tepat.
Dengan pendekatan yang lebih terinformasi, orang tua tidak hanya mampu merespons kondisi anak dengan lebih tenang, tetapi juga dapat mendukung tumbuh kembang anak secara optimal dan berkelanjutan.
Sumber: Tribunkesehatan
