SMARTSURABAYA.COM – Banyak ibu hamil masih beranggapan bahwa pemeriksaan kehamilan sudah cukup dilakukan melalui USG rutin. Padahal, dalam kondisi tertentu, terdapat jenis pemeriksaan yang jauh lebih spesifik, mendalam, dan komprehensif, yaitu fetomaternal.
Pemeriksaan ini memiliki peran yang sangat penting dalam mendeteksi berbagai kemungkinan kelainan pada janin sejak tahap awal kehamilan. Dengan pendekatan yang lebih detail, fetomaternal mampu memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai kondisi ibu dan janin, khususnya pada kehamilan dengan risiko tinggi.
Dokter spesialis kebidanan dan kandungan subspesialis fetomaternal, dr. Mohammad Adya Firmansha Dilmy, Sp.OG, Subsp.K.F.M, menjelaskan bahwa fetomaternal bukan sekadar metode pemeriksaan biasa, melainkan sebuah bidang keilmuan khusus dalam dunia kedokteran.
Ia menekankan bahwa untuk menjadi konsultan fetomaternal, seorang dokter kandungan harus menempuh pendidikan tambahan yang cukup panjang dan intensif.
“Definisi fetomaternal atau seorang konsultan fetomaternal ialah seorang dokter kandungan yang menjalani pendidikan tambahan 2,5 tahun atau 5 semester yang mendalami kehamilan risiko tinggi,” jelasnya pada talkshow kesehatan virtual yang diselenggarakan di akun Instagram Kementerian Kesehatan, Minggu (5/4/2026).
Kehamilan risiko tinggi menjadi fokus utama dalam bidang fetomaternal. Tidak semua kehamilan memiliki kondisi yang sama, sehingga diperlukan pendekatan yang berbeda dalam penanganannya.
Risiko tersebut dapat berasal dari kondisi kesehatan ibu sebelum hamil, maupun penyakit yang muncul selama masa kehamilan berlangsung. Hal ini menjadikan pemantauan lebih intensif sangat diperlukan guna mencegah komplikasi yang lebih serius.
“Ibu yang sakit kemudian hamil, contohnya ibunya dengan lupus terus hamil. Terus kemudian ibu yang hamil lalu sakit, seperti preeklamsi atau diabetes mellitus pada kehamilan,” ujarnya.
Selain faktor dari ibu, kondisi janin juga dapat menjadi sumber risiko yang signifikan. Berbagai kelainan pada janin, baik yang bersifat struktural maupun perkembangan, dapat terjadi dan perlu diidentifikasi sejak dini.
Beberapa di antaranya meliputi kelainan pada jantung, otak, hingga gangguan perkembangan seperti kehamilan kembar tiga yang memiliki tingkat risiko lebih tinggi dibanding kehamilan tunggal.
“Kelainan pada janin, kelainan jantung janin, otak janin, kelainan perkembangan seperti triplet misalnya,” lanjutnya.
Salah satu aspek penting yang kerap tidak disadari oleh banyak ibu hamil adalah bahwa kelainan pada janin sebenarnya sudah dapat dideteksi sejak trimester pertama kehamilan. Bahkan dalam beberapa kasus tertentu, tanda-tanda kelainan dapat terlihat pada tahap yang sangat awal, meskipun ukuran janin masih sangat kecil.
“Tidak ada kepala, tidak ada denyut jantung, atau kepalanya sangat besar, walaupun beratnya masih sebesar nasi putih satu butir, kalau benar-benar abnormal kita bisa deteksi,” jelasnya.
Tidak hanya dari segi bentuk fisik, fungsi organ janin juga dapat dianalisis secara lebih mendalam melalui pemeriksaan fetomaternal. Dengan teknologi dan metode yang tepat, dokter dapat menilai kondisi aliran darah serta fungsi kerja organ vital seperti jantung, sehingga potensi gangguan dapat diketahui lebih awal.
“Dari sifatnya atau fungsi dari aliran darahnya kita bisa lihat, pompa jantungnya kurang benar atau denyut jantungnya terlalu lambat,” tambahnya.
Namun demikian, deteksi dini saja tidak cukup apabila tidak diikuti dengan langkah penanganan yang tepat. Pemeriksaan yang dilakukan tanpa adanya tindak lanjut hanya akan menjadi informasi tanpa manfaat nyata bagi keselamatan ibu dan janin. Oleh karena itu, setiap temuan harus segera ditindaklanjuti dengan pemeriksaan lanjutan yang lebih spesifik.
“Semua pemeriksaan ini akan percuma apabila cuma periksa terus tidak ada tindak lanjut,” tegasnya.
Apabila ditemukan indikasi kelainan, dokter dapat melakukan serangkaian pemeriksaan lanjutan untuk memastikan diagnosis secara lebih akurat. Beberapa metode yang dapat dilakukan antara lain pengambilan sampel jaringan pada usia kehamilan sebelum 16 minggu, serta pemeriksaan air ketuban pada usia kehamilan di atas 15–16 minggu. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kondisi genetik janin secara lebih mendalam.
“Untuk melihat materi genetiknya dan itu akan akurat 100 persen,” imbuhnya. Dengan hasil pemeriksaan tersebut, dokter dapat menentukan langkah penanganan terbaik sesuai dengan kondisi yang ditemukan.
Tidak semua kelainan janin berujung pada kondisi fatal, karena setiap kasus memiliki tingkat keparahan yang berbeda. Oleh sebab itu, diperlukan klasifikasi yang jelas untuk menentukan prognosis dan tindakan yang tepat.
“Kalau kita menemukan kelainan kita harus bedakan, apakah kelainan ini mematikan atau tidak mematikan,” ujar dr. Dido.
Beberapa kondisi masih memungkinkan untuk ditangani, dipantau secara berkala, bahkan diselamatkan dengan intervensi medis yang tepat. Namun di sisi lain, terdapat pula kondisi ekstrem yang secara medis tidak memiliki harapan untuk diselamatkan, sehingga memerlukan pendekatan penanganan yang berbeda dan penuh pertimbangan.
Deteksi dini juga sangat berpengaruh terhadap penentuan tempat persalinan yang tepat. Tidak semua fasilitas kesehatan memiliki kemampuan dan peralatan yang memadai untuk menangani kasus kehamilan dengan komplikasi tinggi. Oleh karena itu, rujukan ke fasilitas yang lebih lengkap menjadi hal yang sangat penting untuk mengurangi risiko yang mungkin terjadi.
“Misalnya bayi dengan kelainan jantung yang berat, tentu tidak lahiran di puskesmas,” tegasnya.
Penanganan kasus kompleks harus dilakukan di fasilitas kesehatan yang memiliki tenaga ahli serta sarana penunjang yang memadai. Jika tidak, risiko kematian, baik bagi ibu maupun bayi, dapat meningkat secara signifikan.
“Kalau ditanganinya di fasilitas yang tidak adekuat, tentu mortalitasnya sangat-sangat tinggi,” jelasnya.
Meskipun berbagai risiko tersebut terdengar mengkhawatirkan, dr. Dido menegaskan bahwa sebagian besar kehamilan sebenarnya berjalan dengan normal tanpa komplikasi berarti. Mayoritas ibu hamil dapat menjalani kehamilan dengan baik hingga proses persalinan berlangsung lancar.
“Kita sebut saja 85 persen itu semuanya baik-baik aja, ibunya baik aja, bayinya baik aja, lahirannya lancar aja,” katanya.
Namun demikian, sekitar 10–15 persen kehamilan yang mengalami komplikasi tetap memerlukan perhatian khusus dan penanganan yang lebih intensif.
Oleh karena itu, penting bagi setiap ibu hamil untuk tidak hanya mengandalkan pemeriksaan rutin, tetapi juga memahami pentingnya deteksi dini dan konsultasi dengan tenaga medis yang kompeten, agar kesehatan ibu dan janin dapat terjaga secara optimal hingga proses persalinan.
Sumber: Tribunkesehatan
