SMARTSURABAYA.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya tengah mengembangkan integrasi sistem “Satu Data Satu Peta” yang berbasis rekam medis elektronik sebagai langkah strategis untuk memperkuat pemantauan kondisi kesehatan masyarakat secara komprehensif dan berkelanjutan.
Program ini dirancang agar mampu menghubungkan berbagai fasilitas layanan kesehatan, mulai dari puskesmas hingga rumah sakit, melalui dukungan sistem digital yang saling terintegrasi. Dengan pendekatan ini, pemerintah berharap dapat memperoleh gambaran kesehatan masyarakat yang lebih akurat, real-time, dan berbasis data yang valid.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, Dr. Billy Daniel Messakh, mengungkapkan bahwa proses pengumpulan data dilakukan secara luas dan sistematis melalui 63 puskesmas yang tersebar di seluruh wilayah Kota Surabaya.
Setiap puskesmas memiliki peran penting dalam menghimpun data kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya masing-masing, sehingga cakupan data yang diperoleh menjadi lebih merata dan representatif.
“Dinas Kesehatan melalui 63 Puskesmas berjalan bersama. Kita turun ke seluruh wilayah kerja di Kota Surabaya dari Puskesmas untuk mengambil data,” kata dr Billy.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa data yang dikumpulkan tidak hanya sebatas informasi umum, tetapi juga mencakup kebutuhan dasar kesehatan warga yang diperoleh secara langsung dari lapangan.
Seluruh data tersebut kemudian diinput menggunakan aplikasi digital terbaru yang telah dikembangkan khusus untuk mendukung program ini, sehingga proses pencatatan menjadi lebih cepat, akurat, dan efisien tanpa harus melalui tahapan manual yang berisiko menimbulkan kesalahan.
“Nah, aplikasi kita yang baru dibuat untuk merekam data pengambilan itu langsung dimasukkan lewat digital,” jelasnya.
Dalam implementasinya, program ini dijalankan melalui skema Home Visit, yakni kunjungan langsung ke rumah warga untuk memastikan kondisi kesehatan mereka secara nyata. Skema ini nantinya akan diintegrasikan dengan peran Kader Surabaya Hebat (KSH), sehingga proses pendataan dan pemantauan kesehatan dapat berjalan lebih efektif dengan melibatkan partisipasi masyarakat secara langsung.
“Nama programnya kita Home Visit. Nanti akan kita gandengkan juga dengan punyanya KSH (Kader Surabaya Hebat),” ujarnya.
Seluruh data yang berhasil dihimpun oleh puskesmas kemudian akan dikumpulkan dalam sistem pusat milik Dinas Kesehatan Surabaya. Data tersebut akan melalui tahapan validasi dan evaluasi terlebih dahulu untuk memastikan keakuratan dan kualitasnya sebelum akhirnya ditampilkan dalam bentuk dashboard yang informatif. Dashboard ini nantinya menjadi alat utama dalam membaca kondisi kesehatan masyarakat secara menyeluruh dan terstruktur.
“Dari 63 puskesmas akan bergabung di warehouse-nya Dinas Kesehatan untuk divalidasi, dievaluasi, dan dari sini akan keluar dashboard kita,” jelas dr Billy.
Integrasi sistem ini juga mencakup penggunaan rekam medis elektronik dari rumah sakit milik Pemkot Surabaya. Hingga saat ini, data yang telah terintegrasi berasal dari tiga rumah sakit, yaitu RSUD Bhakti Dharma Husada, RSUD dr. Mohamad Soewandhie, dan RSUD Eka Candrarini. Ke depan, jumlah ini diharapkan terus bertambah seiring dengan perluasan sistem.
“Dan ini juga untuk Satu Data Satu Peta Kota Surabaya yang akan kita lengkapi. Sehingga kita punya rekam medik elektronik yang ada di tiga rumah sakit Kota Surabaya,” katanya.
Data yang terkumpul nantinya akan dipetakan berdasarkan jenis penyakit serta wilayah penyebarannya. Dengan sistem ini, Dinas Kesehatan dapat mengidentifikasi pola penyakit secara lebih rinci, termasuk wilayah mana yang memiliki tingkat kasus tertentu lebih tinggi, sehingga intervensi dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran.
“Jadi semua yang datang berobat di masing-masing rumah sakit itu kita kasih label. (misal pasien) hipertensi ini, kencing manis ini, sehingga waktu kita klik untuk mencari (data pasien) kita bisa lihat, oh ini kencing manis ada (wilayah) tersebar di mana. Itu output yang kita dapatkan,” imbuhnya.
Selain untuk kepentingan pelayanan kesehatan, hasil pemetaan tersebut juga direncanakan akan dimanfaatkan sebagai bahan riset akademik. Dengan data yang terstruktur dan dapat dipertanggung jawabkan, penelitian yang dihasilkan diharapkan mampu memberikan solusi kesehatan yang lebih tepat, berbasis bukti ilmiah, dan relevan dengan kondisi nyata di lapangan.
“Sehingga kita menemukan solusi yang betul-betul akurat dari satu penelitian yang benar dan punya tata kelola yang dapat dipertanggungjawabkan,” katanya.
Sementara itu, Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menegaskan bahwa sistem rekam medis elektronik ini sebaiknya tidak hanya dimanfaatkan oleh Dinas Kesehatan saja, tetapi juga harus melibatkan seluruh rumah sakit di Kota Surabaya. Ia berencana mengumpulkan para direktur rumah sakit untuk membentuk sebuah komunitas atau forum bersama guna menyatukan sistem rekam medis tersebut.
“Nanti semua direktur rumah sakit dikumpulkan, bentuk sebuah komunitas dokter atau rumah sakit. Nanti semua itu rekam medisnya muncul di situ,” ujar Wali Kota Eri.
Menurutnya, integrasi menyeluruh ini sangat penting untuk menghasilkan pemetaan penyakit yang lebih detail hingga ke tingkat wilayah terkecil. Dengan demikian, pemerintah dapat mengetahui secara spesifik jenis penyakit yang dominan di suatu daerah tertentu.
“Jadi kita bisa memetakan. (Wilayah) ini sakit apa, wilayah yang sakit kencing manis di mana, wilayah sakit jantung di mana,” imbuhnya.
Ia juga menekankan bahwa keberadaan sistem rekam medis elektronik sangat membantu dalam memastikan pasien tetap terpantau, terutama bagi masyarakat kurang mampu yang membutuhkan perhatian lebih.
Jika ada pasien yang tidak melakukan kontrol sesuai jadwal, pemerintah dapat segera mengambil langkah proaktif dengan mendatangi rumah pasien dan memberikan pengobatan.
“Kalau ternyata dia tidak kontrol pada hari itu, maka tugas kami sebagai pemerintah turun ke rumahnya, kasih obat. Ya ini kenapa kami membutuhkan yang namanya rekam medis,” katanya.
Meski demikian, Wali Kota Eri menegaskan bahwa seluruh pemanfaatan data rekam medis tetap berada dalam batasan kerahasiaan yang ketat. Data tersebut tidak boleh disebarluaskan ke publik dan hanya digunakan dalam lingkup pelayanan kesehatan guna meningkatkan kualitas penanganan dan pencegahan penyakit.
“Rekam medis sifatnya rahasia, iya rahasia. Kalau disampaikan ke publik, itu yang salah, tapi kalau rekam medis itu masuk dalam koridor rumah sakit-rumah sakit, yang digunakan untuk pencegahan kesehatan itu diperbolehkan,” tegasnya.
Dengan adanya sistem ini, Pemkot Surabaya menargetkan bahwa upaya pencegahan penyakit dapat dilakukan secara lebih optimal melalui pemantauan berbasis data yang akurat dan terintegrasi.
Pendekatan ini diharapkan mampu menekan angka kesakitan sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh. “Karena bagaimanapun pencegahan itu lebih bagus daripada ketika kita sakit” ujarnya.
Implementasi sistem “Satu Data Satu Peta” berbasis rekam medis elektronik ini menjadi langkah progresif dalam transformasi layanan kesehatan di Kota Surabaya.
Dengan dukungan teknologi, kolaborasi lintas fasilitas kesehatan, serta pemanfaatan data yang bertanggung jawab, program ini berpotensi besar menciptakan sistem kesehatan yang lebih responsif, preventif, dan berorientasi pada kebutuhan nyata masyarakat.
Sumber: Surabaya.go.id
