SMARTSURABAYA.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus memperlihatkan komitmennya dalam mendukung dan memfasilitasi para pelaku seni dan budaya di Kota Pahlawan. Salah satu bentuk nyata dari komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan On The Spot (OTS) atau melukis bersama yang mengusung tema “Beauty of Balai Pemuda Surabaya”.
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Kartini yang jatuh pada 21 April 2026. Ketua Sanggar Merah Putih, M. Anis, menekankan pentingnya mempertahankan Balai Pemuda sebagai pusat kesenian yang tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga peran strategis dalam melahirkan seniman-seniman besar.
“Kami berharap pemkot tetap mempertahankan Balai Pemuda sebagai kuasa kesenian. Ini sudah berlangsung sejak 1972. Dari sinilah lahir misalnya Gombloh, Leo Kristi, Franky Sahilatua, seniman-seniman yang kondang-kondang dulu berasal dari Balai Pemuda,” ujar M. Anis saat ditemui di sela kegiatan Beauty of Balai Pemuda Surabaya.
Menurut Anis, keberadaan Balai Pemuda tidak sekadar sebagai ruang fisik, melainkan juga simbol keberlanjutan ekosistem seni di Surabaya. Oleh karena itu, dukungan pemerintah dinilai sangat penting untuk menjaga kesinambungan aktivitas kesenian.
“Maka saya berharap Pemerintah Kota Surabaya mempertahankan Balai Pemuda ini sebagai kuasa kesenian. Itu sangat penting,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa kesenian tidak bisa semata-mata diukur dari kontribusinya terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD), melainkan harus dipandang sebagai bagian dari keseimbangan pembangunan kota secara menyeluruh.
“Memang kalau dilihat tidak menghasilkan, untuk PAD, kesenian tidak menghasilkan. Kesenian itu harus dibiayai oleh pemerintah. Karena ini untuk keseimbangan,” tuturnya.
Anis turut mengapresiasi perhatian Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, yang dinilai tetap memberikan ruang bagi berbagai cabang seni untuk tampil di Balai Pemuda.
“Saya apresiasi Pak Wali (Eri Cahyadi) yang memperhatikan dan mempertahankan Balai Pemuda sebagai kuasa kesenian, dimana beliau menyatakan tetap semua kesenian bisa tampil di sini,” sebutnya.
Lebih lanjut, Anis menggambarkan aktivitas di Galeri Merah Putih yang dikelolanya sebagai contoh nyata dinamika seni lukis di Surabaya. Meskipun berukuran kecil, galeri tersebut memiliki frekuensi pameran yang sangat tinggi dan menjadi ruang penting bagi para pelukis untuk menampilkan karya mereka secara rutin.
“Nah, kami di sini konsen pada seni lukis. Di sini setiap tahun ada 39 sampai 40 agenda pameran lukisan. Jadi padat sekali mungkin. Ini adalah galeri terkecil di Indonesia, tapi terpadat di Indonesia,” ungkapnya.
Anis juga menilai bahwa dukungan Pemkot Surabaya terhadap pelaku seni selama ini sudah cukup terasa. Namun demikian, ia menekankan bahwa dukungan moral serta kebijakan yang berpihak tetap menjadi faktor krusial dalam menjaga keberlangsungan aktivitas seni.
“Sangat mendukung, dan saya berterima kasih pada keputusan Pak Wali yang kemarin. Kesenian tetap bisa di Balai Pemuda, saya dukung dan kita apresiasi,” katanya.
Meski sempat muncul kekhawatiran terkait isu penggusuran, yang menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku seni, Anis berharap ke depan dukungan pemerintah kota semakin konsisten, khususnya dalam bentuk perhatian terhadap keberlanjutan kesenian.
“Saya berharap pemkot mendukung bukan berupa dana, tapi dukungan moral,” harapnya.
Sementara itu, pelaku seni tari Surabaya, Sri Mulyani, memandang transformasi kelembagaan Dewan Kesenian Surabaya (DKS) sebagai langkah positif dalam memperluas pengembangan budaya. Ia menilai bahwa konsep kebudayaan memiliki cakupan yang lebih luas dibandingkan kesenian semata.
“Kalau menurut saya kesenian itu mungkin lebih kecil ya, kalau budaya itu lebih meluas. Intinya itu bidang-bidangnya itu lebih luas,” kata Sri Mulyani.
Sri Mulyani, yang telah berkecimpung di dunia tari sejak 1982, mengaku merasakan secara langsung dukungan Pemkot Surabaya dalam berbagai kegiatan seni, mulai dari penyelenggaraan acara hingga penyediaan fasilitas pertunjukan.
“Saya sangat bangga terhadap Pemerintah Kota Surabaya yang selama ini selalu memperhatikan pelaku budaya, saya mengalami sendiri ini,” ujarnya.
Ia mencontohkan bagaimana kegiatan yang digagasnya mampu berkembang dari skala nasional hingga internasional berkat dukungan fasilitas yang memadai, seperti gedung pertunjukan, pencahayaan, serta sistem suara.
“Sehingga kebutuhan saya untuk ingin memiliki fasilitas gedung yang memadai untuk mempresentasikan karya-karya teman-teman seluruh dunia, itu bisa terwujud dengan baik,” tuturnya.
Selain itu, Sri Mulyani juga menyebut adanya dukungan Pemkot Surabaya dalam bentuk fasilitasi kegiatan luar kota sebagai bukti nyata keberpihakan terhadap pelaku budaya.
“Di Balai Kota Surakarta itu kami difasilitasi misalnya dibantu konsumsinya, transportasi, seperti itu. Jadi supportnya banyak banget,” katanya.
Ia juga melihat perkembangan atmosfer seni budaya di Surabaya semakin dinamis. Hal ini didorong oleh berbagai agenda dan festival yang memberikan ruang bagi pelaku seni untuk berkreasi sekaligus berkompetisi.
“Luar biasa sekarang ini apalagi agenda-agenda Kota Surabaya itu sangat menarik untuk mendatangkan wisatawan, bahkan untuk masyarakat bisa berekspresi,” pungkasnya.
Secara keseluruhan, berbagai bentuk dukungan yang diberikan oleh Pemkot Surabaya menunjukkan komitmen berkelanjutan dalam menjaga eksistensi seni dan budaya sebagai bagian penting dari identitas kota.
Ke depan, konsistensi kebijakan serta dukungan moral diharapkan tetap menjadi fondasi utama dalam memperkuat ekosistem seni yang inklusif, produktif, dan berdaya saing.
Sumber: Surabaya.go.id
